Tak Usahlah Memusingkannya!

Ini adalah sebuah cerita lama, yang baru-baru ini saya dengar lagi dalam sebuah show-nya Mario Teguh, sang motivator kondang itu, di televisi. Dalam show tersebut, Mario Teguh mengangkat sebuah topik yang cukup unik: topik mengenai cinta.

Saya, sebagai anak muda yang sedang mencari cinta (#halah) tentu saja langsung mengurangi kecepatan makan malam saya dan mendongak untuk ikut mendengarkan apa yang disampaikan Mario Teguh. Semua yang beliau sampaikan bagus, dan sangat inspiratif, namun secara umum tidak terlalu mengejutkan bagi saya. Nyaris semua bahasan di dalamnya sudah biasa saya dengar dan baca dalam kehidupan sehari-hari, bahkan saya terapkan di dalamnya.

Ya, hingga akhirnya beliau sampai pada satu topik pertanyaan ini, yang disampaikan oleh salah seorang penonton:

“Jika kita sudah berkeluarga nanti, bagaimana kita mengatur cinta kita? Ada banyak hal yang harus dan selayaknya kita cintai: istri/suami kita, anak kita, ipar kita, mertua kita, orangtua kita sendiri, dan bahkan agama kita. Bagaimana kita bisa membagi hati kita?”

Beliau tertawa kecil, dan menjawab dengan lancar, “Tentu saja jawabannya adalah: Anda harus mencintai agama Anda 100%, sepenuh-penuhnya hati.”

Saya mengangguk. Hal yang biasa saya dengar juga, teman-teman saya juga dari dulu sering berkata begitu -

“Kemudian, Anda mencintai istri/suami Anda 100%. Juga sepenuh hati.”

Saya mendongak. Apa maksudnya?

“Ipar Anda 100%, anak Anda 100%, mertua Anda 100%, dan orangtua Anda 100%. Semuanya 100%, sepenuh-penuhnya hati kita memberikan.”

Saya mengerjap beberapa kali. Lho, kok bisa begitu? Mana bisa kaya’ begitu, khan? Masa hati kita mau dijumlah berapa ratus persen-

“Disitulah sebagian besar dari kita salah. Kita menganggap kita tidak bisa mencintai semuanya 100% sama. Padahal bisa. Berikan 100% pada semua yang memang kita sayangi. Mungkin kata Anda, ‘Lha, jumlah semuanya khan bakal lebih dari 600%, 10000%, dan semacamnya itu pak?’

“Itulah poinnya. Kita bisa melakukannya karena Cinta itu tidak ada logika. Cinta itu tidak bisa dihitung dengan matematika. Kalau berusaha mengharafiahkan cinta dengan logika, itu berarti membelenggu cinta hanya dalam batas daya pikir otak manusia. Padahal kenyataannya tidak! Cinta adalah sesuatu yang sangat haqiqi, sesuatu yang sangat tinggi melampaui segala logika dan daya pikir manusia!”

Continue reading