Hari Cokelat, Kopdar Jombloers, dan Berasa Tua

Hari Cokelat!

14 Februari 2012. Hari Valentine. Atau, seperti yang banyak anak muda sekarang katakan, ‘Hari Kasih Sayang’. Saya nggak akan mencoba mencaritahu darimana sebenarnya asal-muasal Hari Valentine ini, terlalu banyak cerita dan konspirasi yang menebar, dari kisah konspirasi sederhana (kesalahpahaman antar budaya) hingga yang ekstrim, seperti valentine adalah hari yang diadakan dari zaman Sumeria dan diajarkan oleh para Alien dalam rangka memuja Dewa mereka.

Yap, sumber-sumbernya ada lho. Coba aja cek di internet. Begitu banyak kisah-kisah seram yang berkaitan dengan Hari Valentine, sampai-sampai saya sakit kepala sendiri. Walhasil, mindset saya selama beberapa tahun terakhir ini tentang Hari Valentine terasa rada negatif, dan saya berpikir untuk melalui Valentine kali ini dengan biasa saja, sebagaimana hari-hari normal.

Setidaknya, sampai seorang teman saya berkata pada saya tentang bagaimana dia menyebut Hari Valentine sebagai Hari Cokelat. Alasannya? Apalagi kalau bukan karena biasanya pada hari tersebut adalah hari dimana anak-anak muda pada bagi-bagiin cokelat satu sama lain? Entah dalam rangka nembak, menyatakan cinta, kasih sayang, atau hal-hal lainnya, yang jelas mereka tuh bagi-bagiin cokelat. Dan cokelat itu bisa dimakan. Apalagi kalau tukeran. Profit deh.

Cokelaaat

Tentu saja terdengar aneh, bagi saya yang biasanya ber-mindset bahwa Valentine adalah ajang kasih sayang anak muda yang bisa berpotensi zina. Namun kalau dipikir-pikir lagi dari kata-katanya temen saya itu, rasanya malah lebih masuk akal juga ya. Kenapa nggak merayakan Valentine Day dengan cara kita sendiri, yang cukup produktif, menyenangkan, dan mengenyangkan, yaitu bagi-bagi dan tuker-tukeran cokelat?

Walhasil, saya sebarkan ide saya tersebut, kemudian saya tuker-tukeran cokelat sama beberapa orang , kemudian makan bareng (#gubrak). Dan saya secara spesial ngasih cokelat sebatang ke teman saya si penggagas Hari Cokelat, tapi ternyata dianya gak ngasih balik! Huhuhu… pokoknya saya tagih ntar ah! (#gakikhlas #payaaaah #plakk :mrgreen: )

Continue reading

Back to Campus: Semester Padat!

Hari ini liburan peralihan semester awal tahun 2012 telah usai. Teman-teman saya di kampus pada kembali ke hingar-bingar kehidupan kuliah hari ini. Sebagian besar dari mereka membawa cerita-cerita, makanan/kudapan khas, serta berbagai cinderamata dari kampung halaman mereka masing-masing. Sepanjang kuliah hari ini, toples berisi kudapan-kudapan khas dari berbagai daerah beredar, dan dalam waktu singkat pula mereka habis.

Gaya euy! Habis dari pulkam harus semangat!

Lalu, bagaimana dengan saya? Sayangnya, tidak sebagus itu. Saya tidak pulang ke kampung halaman saya pada liburan peralihan kemarin. Banyak alasannya, dari bisnis yang harus diurus sampai – yang paling utama – kegiatan-kegiatan organisasi yang harus mulai dijalankan.

Sebagaimana yang mungkin sebagian besar dari teman-teman narablog (terutama yang sering mengunjungi lapak saya ini) tahu, saya adalah anggota dari Dewan Perwakilan Mahasiswa Fahutan IPB untuk tahun ini. Komisi Infokom pula. Saya ngurus banyak hal, sebagaimana yang teman-teman bisa baca dari posting saya yang ini, namun satu yang paling membuat jadwal saya cukup padat pada seminggu terakhir adalah kegiatan Lokakarya KM 2012.

Continue reading

[Fiksi] Untuk Ambrosia: Sebuah Khayalan

A/N: Sudah cukup lama – mungkin dua tahun atau lebih – sejak terakhir kali saya menulis sebuah Flash Fiction. Harap dimaklumi kalau ada banyak kekurangan, dan saya sangat memohon dan mengapresiasi setiap masukan yang teman-teman berikan. Untuk mbak Amela, terima kasih atas Giveaway-nya. Silakan, selamat membaca :D

.

CAIN

.

Pria itu duduk dengan tenangnya, di sebuah bangku halte bus tua. Dengan baju compang-camping, penampilan berantakan, aroma busuk yang menebar, serta rambut kusut berubannya, semua orang di jalanan melewatinya cepat-cepat. Gelandangan, pria tak berguna, para masyarakat menyebutnya demikian.

Kemudian hujan turun. Demikian derasnya, hingga orang-orang merapat ke bawah lindungan atap pertokoan, membuka payung mereka terburu-buru, dan berjingkat di atas trotoar yang tergenang air. Para pengendara roda dua menepi, beberapa untuk memakai jas mereka, beberapa bergabung bersama peneduh.

Seorang pemuda menghentikan motornya di halte bus tersebut, turun dan duduk di bangku panjangnya. Dia melepas helmnya, menyeka rambut dan wajahnya yang basah. Dia merasa kedinginan.

Pria tua tersebut mulai bersiul. Dalam deru angin dan hujan, suara siulannya terdengar begitu ganjil, terlalu merdu, indah, dan menyedihkan. Pemuda tersebut menoleh ke si pria tua, memandanginya dengan bingung.

Saat bait pertama siulannya berakhir, sang pemuda memutuskan untuk menyela. Dia berkata, “Maaf, apakah kita pernah bertemu?”

Derasnya hujan, deru angin, seolah teredam begitu saja. Seolah alam, langit, dan tetesan air tidak berniat untuk membiarkan kalimat jawaban dari pria tua tersebut tak terdengar, seolah mereka ikut termangu mendengarkan.

Suara tawa pelan keluar dari mulutnya, pria tua itu menjawab, “Tidak, tidak pernah.”

“Lagu itu… tapi lagu itu…” pemuda tersebut berkata, mendekat ke arah si pria tua, “Lagu yang kau siulkan, Pak Tua – aku yakin aku pernah mendengarnya sebelumnya!”

“Di satu tempat yang asing, seolah bagai mimpi, namun sangat nyata dan berkesan di hati, benar ‘kan?” kata pria tua itu, tersenyum di akhir kalimatnya. “Aku pernah mendengar seluruh lagu dan nyanyian yang ada di dunia, sejak bahasa pertama digunakan. Tentu saja kau pasti pernah mendengarnya, nak.”

Sang pemuda mengernyit. “Oke… Bagaimana caranya kau bisa melakukannya?”

“Melakukan apa?”

“Mendengarkan seluruh lagu… di dunia?”

“Itu hal yang mudah dilakukan, kalau kau membunuh  di muka bumi, lari meninggalkan kedua orangtuamu, yang menangisimu, menyesali diri mereka sebagai orangtua yang gagal, padahal dirimu yang bersalah karena terayu tipu daya setan. Hal yang sangat gampang, jika kau menambah derita mereka, setelah mereka dibuang dari Taman Kebahagiaan.”

Pria tua itu mendengus pelan, menggeleng-geleng kecil dengan sedih. “Ah… Ribuan tahun. Berlalu dengan kutukan di punggungmu. Kau takkan bisa mati, karena seluruh dosa pembunuhan di dunia menanti untuk ditimpakan padamu, hingga pembunuhan terakhir yang akan ada.”

Sang pemuda menatap pria tersebut, yang menoleh kepadanya, tersenyum jail. Dia melanjutkan, “Pada akhirnya, kau cuma akan berjalan. Jalan dan terus berjalan, mengitari dunia berkali-kali. Tak pernah tinggal di satu tempat lama-lama, karena tak ada tujuan ‘tuk dituju, tak ada hidup ‘tuk dihidupi. Tidak jika hubunganmu dengan Tuhan seburuk hubunganku dengannya.”

Pria tersebut bangkit. Dia meninggalkan perlindungan atap halte bus, melangkah melewati tirai hujan. Mendongak menatap langit kelabu, dia berkata, “Mungkin Tuhan memang sudah meninggalkanku… dan meninggalkan dunia ini. Mungkin Dia merasa kecewa pada kita. Atau mungkin Dia memang hanya ingin bermain-main… di tempat lain.”

Menoleh ke si pemuda, pria tersebut mengedip, dan berkata, “Kalau kau tahu maksudku.”

Sang pemuda memandangi pria itu melangkah, kian jauh menembus hujan, hingga lenyap di tengah jalan. Udara dingin kian mencekam, seiring kepergian pria tersebut.

.

Word Count: 500

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

Tentang KRS dan Kopdar Perdana

Pertama-tama, izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada Om Trainer karena telah mengizinkan saya mengirimkan tulisan ini dan menjadi penulis tamu dalam event Karsini miliknya. Sebuah kehormatan besar bagi saya, semoga apa yang saya tulis bisa selalu bermanfaat untuk semuanya :D

Lalu, sudah nyaris empat hari saya tidak berkunjung ke blog ini. Nggak nulis satu tulisan pun, novel dan cerpen terbengkalai, bahkan olahraga pun makin gak beres jadwalnya. Alasannya kenapa? Ada dua:

Pertama, karena saya beberapa hari belakangan ini sedang kerja keras mempersiapkan situs DPM Fahutan IPB agar bisa bekerja dan tampil maksimal. Dari mendesain header, menyusun dan memerbaiki format artikel-artikel yang sudah ada di sana, memilih Theme yang sesuai, dan sebagainya. Periode kuliah Semester Genap sudah mau dimulai, namun situs Dewan Perwakilan Mahasiswa Fahutan belum siap? Kemana saja saya? Ya, silakan, tendang saya #dugh karena kebanyakan santai-santai di rumah :cry:

Anyway! Saya sudah menyelesaikan pembangunan infrastruktur (ceritanya bahasanya mulai berat) sistem informasi online DPM Fahutan periode kepengurusan 2012. Saya mengaktifkan kembali Profil Facebook-nya, akun Twitter-nya, mendirikan Page Google+, hingga memperbaiki situs resminya. Kerjanya sebenarnya nggak terlalu berat, cuma duduk di depan laptop, namun karena internet yang lola (biasalah modem kalau dituntut kerja malah susah mau kerjasamanya) dan saya sendiri yang benar-benar gak begitu siap, jadilah butuh waktu dua hari penuh plus pegal-pegal di pinggang sebelum semuanya benar-benar kembali aktif. Phew. Yah… minimal sekarang sistem informasi online kami sudah kembali bekerja dengan baik, dan kami telah menyampaikan informasi-informasi serta bantuan-bantuan terbaru – terutama yang berkaitan dengan KRS.

Continue reading

Mengapa Berbuat Baik?

Ini ada cerita dari zaman saya SMA dulu. Waktu itu adalah hari Senin, seperti biasa sebagaimana hari Senin lainnya di sekolah saya, kami melaksanakan Upacara. Anak-anak kelas 10 masuk terlebih dahulu ke lapangan, langsung baris rapi, disusul oleh anak-anak kelas 11, dan kelas 12. Kemudian adalah para guru dan staf.

Semua petugas sudah di tempatnya, pengibar bendera sudah berdiri dengan tegapnya, dan pemimpin upacara menatap dengan gagahnya. Semuanya siap, tinggal menunggu seseorang yang menjadi kunci jalannya upacara ini: Pembina Upacara.

Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit berlalu. Menit demi menit berlalu hingga saya tidak lagi menghitung jumlah detik yang terlewati. Namun si bapak yang mau jadi pembina upacara ini belum datang-datang juga. Jadilah saya, dan sepertinya sebagian besar peserta upacara, mulai gelisah. Bagaimana tidak? Cuaca panas, langit jernih bersih tak ada awan, matahari makin lama makin meninggi, menerpa kami dengan teriknya, dan tak ada angin. Kami sudah bangun dan bersiap-siap untuk upacara ini sejak pagi-pagi sekali, dengan semalaman mempersiapkan diri untuk menyambut hari Senin. Kami bukanlah manusia super, apalagi saya, dan saya mulai merasa kesal.

Tentu saja kami tidak menampilkannya di luar. Secara tampilan, kami masih tegap, tegak, gagah dan perkasa. Hanya keringat yang mulai menetes-netes dan membasahi wajah kami yang menjadi pertanda berapa banyak stamina kami yang terkuras. Detik demi menit berlalu, hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu datang: sang Pembina Upacara jalan dengan tenangnya memasuki lapangan, diiringi teman saya yang menjadi ajudannya. Pasukan disiapkan, kami langsung mengambil posisi siap, dan saya berusaha keras agar tidak menyisakan jejak-jejak kejengkelan di wajah saya.

Continue reading