Hal Sederhana: Menanam Pohon

ImageKalau teman-teman disuguhkan gambar seperti di samping ini, apa arti gambar di samping menurut pikiran teman-teman? Kerusakan alam? Keserakahan manusia? Rasa sedih dan putus asa akan dunia yang makin menuju kehancuran? Atau lebih lebai, yaitu tanda-tanda kiamat?

Ya, mungkin banyak sekali pikiran-pikiran negatif yang berkecamuk di kepala teman-teman. Dan jangan salah, itu pasti terjadi pada semua orang saat mereka melihat gambar seperti di samping. Propaganda dan iklan-iklan yang berseliweran di berbagai media membuat kita kian sensitif akan hal-hal seperti di samping. Dan itu bukanlah hal yang buruk, membangkitkan rasa sensitivitas kita. Sama sekali bukan. Hanya saja, mungkin ada baiknya jika kita menyikapi hal-hal seperti di atas dengan sedikit lebih berilmu :)

Yang pertama, menurut saya, kalau melihat gambar di atas, bisa berarti dua hal: Pertama, kalau hal di atas terdapat di Hutan Tanaman, yaitu hutan yang sasaran utamanya diadakan adalah untuk tujuan produksi, hal di atas bisa berarti wajar. Tentu saja wajar, hutan tanaman khan ada periode-periode penebangannya. Kayu-kayunya diambil secara rutin dan berkala untuk dijadikan bahan baku produksi barang-barang konsumsi masyarakat. Keberadaan tunggak kayu bekas tebangan seperti di atas adalah hal yang wajar.

Namun lain halnya kalau tunggak kayu di atas ditemukan di daerah Hutan Alam. Atau lebih parah lagi, di Hutan Lindung/Kawasan Konservasi yang mana penebangan kayu sangat dibatasi, bahkan dilarang dengan ketat. Keberadaan tunggak kayu di atas bisa jadi memberitahukan akan adanya illegal logging yang sedang terjadi.

Nah, sekarang bercermin pada kenyataan di negara kita. Faktanya adalah, setiap harinya illegal logging terjadi tiap hari. Penebangan liar merambah kian besar per detiknya. Begitu besarnya hingga beberapa studi mengatakan bahwa illegal logging tidak dapat dihindarkan, karena kenyataannya tanpa penebangan ilegal, kebutuhan kayu takkan dapat terpenuhi. Di sini, mau tak mau kita tak hanya menyalahkan para penebang liar tersebut – melainkan juga diri kita sendiri. Saat kita membeli mebel, membeli kursi, lemari, dan berbagai barang-barang produk kayu lainnya, sudahkah kita mengecek asal-muasalnya? Mengecek apakah barang-barang tersebut berasal dari produk kayu legal, dari industri pengolahan kayu yang tersertifikasi?

Continue reading

Menuju Ke Depan Dalam Bidang Lingkungan Hidup

Kalau mau jujur, saat saya kecil, kanak-kanak, hingga remaja, tidak sedikit pun saya memikirkan isu-isu lingkungan hidup. Pemanasan Global, Perubahan Iklim, kelestarian hutan dan pembalakan liar, semua itu hanya terasa seperti angin lalu di lingkungan tempat saya tumbuh dan hidup.

Namun seperti semua orang lainnya, selalu ada sesuatu yang memulai. Dan sesuatu itu terjadi saat saya ada di SMA, kelas dua, seusai liburan akhir semester yang biasa.

Saya baru saja membeli sebuah DVD film di Jakarta. Judulnya Wall-E, film animasi yang – berdasarkan pendapat kakak-kakak sepupuku yang menyarankanku untuk membelinya – merupakan film animasi yang sangat bagus: menyentuh, romantis, dan exceptionally beautiful. Saya sudah pernah membaca artikel mengenai peluncuran film Wall-E sebelumnya di beberapa majalah, dan saat itu saya tidak bisa mengerti bagaimana sebuah film yang (katanya) bisu, dimainkan oleh robot-robot, dan bertemakan post-apocalyptic world bisa menjadi romantis.

Toh saya membelinya, dan saya membawanya ke SMA TN. Saya tidak membawa laptop saya bersama saya ke barak saat itu, jadi, karena saya (mendadak, dan tak terjelaskan kenapa) menjadi penasaran, saya datangilah rumah teman saya yang, kebetulan, merupakan anak dari salah satu guru di SMA TN. Saya beritahu dia kalau saya punya film baru, dia bilang dia tertarik, dan kami pun menontonnya bersama di DVD rumahnya.

Dan boy, saya tak akan berpanjang lebar lagi, kalau mau membaca ulasan dari saya mengenai film ini, silakan baca di sini. Sudah lengkap dan sejelas-jelasnya, mengungkapkan seluruh perasaan hati saya mengenai Wall-E.

Film tersebut adalah film pertama yang, menurut saya, meninggalkan kesan sangat dalam bagi diri saya. Haunting and intriguing, saya membutuhkan waktu berhari-hari – dengan otak saya yang waktu itu masih kaku, masih keras, masih egois – untuk bisa mengerti makna dari film ini. Dan boy, it was all worth it.

Continue reading

Ujian Tengah Semester – Sebuah Review

Hari Jumat kemarin, bersamaan dengan terselesaikannya soal nomor terakhir ujian mata kuliah Analisis Meteorologi, maka berakhir pulalah Ujian Tengah Semester genap tahun ini bagi saya. Banyak cerita dari UTS kali ini. Dari yang suka hingga duka, namun kalau boleh dikatakan sejujur-jujurnya, maka saya akan mengatakan.. bahwa jauh lebih banyak suka-nya daripada duka.

Apa saja sih suka-nya? Yah… diantaranya: saya belajar nggak sendirian, selalu ada yang nemenin – biarpun cuma satu orang (hahem.. :P ); kemudian saya sudah belajar dari jauh-jauh hari, sehingga pas H-1 saya tinggal review ulang, baca-baca kembali materi; saya sudah menghadap beberapa kakak kelas, meminta materi-materi slide dan contoh-contoh soal tahun lalu (yang mana ada di antaranya ternyata sama persis dengan soal-soal UTS tahun ini. Seriusan!); dan masih banyak lagi kesenangan yang terjadi.

Efeknya? Well, tentu saja sebagai yang utama adalah saya tidak garah-gusuh pas sudah H minus 1. Saya tinggal duduk santai, baca review dengan ditemani kopi sampai malam, saya mengulas dengan tenang (meskipun ada juga yang enggak sih, huhu :( ), dan lain-lain. Dan mengenai belajar bareng – wah, tentu saja ini sangat menyenangkan ya. Bagaimana mungkin tidak? Duduk bareng temen-temen, membahas soal bareng-bareng, kemudian kalau sudah agak jenuh tinggal makan cemilan ramai-ramai dan ngeceng-cengin satu sama lain.

Sempat ada satu hari saya lagi males, saya lagi pengen belajar sendirian aja (namanya juga ABG, masih galau-galuan :D ), tapi kemudian teman dekat saya menghubungi, sebut saja namanya Alwi. Dia meminta saya nemenin belajar bareng. Wah, tentu saja saya awalnya males, mana lagi galau, lagi sakit kepala juga… tapi saya pun akhirnya datang. Dan tidak disangka-sangka, si Alwi ternyata mengundang banyak sekali anak-anak kelas juga. Hadeuh… semuanya jadi berisik dong…

Image

Image

Tapi ternyata – ternyata, saya malah mendapati sakit kepala saya sedikit demi sedikit menghilang bersama kegalauan saya. Berkeliling menghampiri teman-teman saya satu demi satu, membantu mengerjakan soal-soal yang ada di lembar UTS tahun-tahun lalu, dan lain-lainnya… semuanya terasa sangat menyenangkan. Saya senang mengajarin teman-teman saya, apalagi ada si ehem di sana… xixixi.

Anyway. Intinya UTS kali ini sangat lancar dan menyenangkan, jauh berbeda dibandingkan dengan UTS” sebelumnya. Masalah nilai mah masalah kesekian… kurang begitu penting. Yang jelas, sekarang semuanya terasa sangat puas!

Harapan saya sederhana: semoga kedepannya bisa terus seperti ini… dan semoga bisa lebih dekat lagi dengan si ehem huehuehuekkeke :mrgreen:

Dua Hari Ujian: Perasaan Unik

Sudah dua hari saya menjalani UTS: Selasa dan Rabu, dengan masing-masing untuk mata kuliah Anatomi dan Kimia Kayu. Soal-soal sudah saya kerjakan, saya keluar ruangan dengan cukup lega, pokoknya overall ndak parah-parah amat. Namun terlepas dari sudah terlaksananya dua hari berturut-turut UTS Semester Genap saya di tingkat II ini, tetap saja ada perasaan aneh dari dalam diri saya terhadap UTS ini, sesuatu yang saya tadinya mengira akan hilang seiring berjalannya waktu.

Apakah itu? Ya, perasaan itu adalah perasaan tenang.

Saya adalah orang yang cukup rempong. Sering tampak ndak nyantai banget kalau mau ujian. Dan jangankan ujian, latihan soal atau kuis sehari-hari saja saya sering panik sampai-sampai lupa semua materi yang penting-penting, yang vital-vital. Namun sangat berbeda halnya dengan UTS kali ini. Saya merasa sangat santai, relaxed, nyaman, dan tenang. Sembari belajar saya masih menyempatkan diri membuka laptop, browsing internet, membaca-baca blog teman-teman, dan lain sebagainya. Pokoknya benar-benar “Bukan gue banget” dah!

Entah apa yang menyebabkan saya seperti ini. Di satu sisi, saya sempat khawatir ini adalah pertanda saya menjadi malas dan bahwa saya akan mendapatkan nilai jelek kalau saya masih merasa seperti ini. Namun di sisi lain, sebagaimana saya katakan di atas, sudah dua hari UTS terlewati dan sejauh ini saya masih merasa lancar-lancar saja – terlalu lancar malah, terutama untuk mata kuliah kemarin, Kimia Kayu. Memang jelas, saya ndak mungkin benar-benar menjawab semuanya dengan benar dan mendapat nilai 100, namun tiap kali saya keluar ruangan dan membaca-baca slide mata kuliah yang baru diujikan dalam rangka mencocokkan jawaban saya, saya selalu mendapati sebagian besar benar dan saya pun akan berpikir, “Alhamdulillah, dapat lah nilai B :)

Memang ini bukan hal yang baru. Saya mengalami ini menjelang akhir UAS semester ganjil kemarin, dan Alhamdulillah nilai-nilai saya sangat memuaskan seluruhnya, menutup nilai UTS Semester ganjil saya yang hancur berantakan. Mungkin saya bisa merasa seperti ini karena saya sudah mendapatkan irama belajar yang tepat, atau mungkin karena saya jadi malas, kurang ambisi, atau mungkin… dan ini yang paling saya harapkan, sebenarnya: Karena saya sudah bisa lebih banyak bersyukur, menikmati segalanya yang ada sebaik-baiknya. Belajar tetap jalan, main tetap jalan, temenan tetap jalan, Insya Allah hasil terbaik, ‘kan? :D

DSC03892

Tentu saja UTS masih panjang, masih ada seminggu lagi dan enam mata kuliah yang harus dikerjakan. Harapannya saya bisa menjaga perasaan tenang dan nyaman saya ini, sehingga belajar pun bisa tetap terasa menyenangkan. Sekali lagi, mohon doanya ya teman-teman!! :mrgreen: Terima kasih!

Kuisioner Yuk…?

Hari ini saya datang pagi-pagi ke kampus. Ada apa gerangan datang ke kampus pagi-pagi begini, padahal hari ini nggak ada kuliah dan besok ujian? Yah… ada dua alasan sederhana: yang pertama, saya harus ke kantor TU departemen Hasil Hutan, departemen saya, untuk mengurus jadwal ujian saya yang bentrok dengan jadwal ujian dari mata kuliah Supporting Course. Jujur saya sempat ngerasa diping-pong sana-sini selama nyaris sejam, namun akhirnya permasalahannya selesai juga. Yang harus dilakukan tinggal menghubungi dosen mata kuliahnya, meminta ujian susulan, dan selesailah.

Kemudian yang kedua, dan mungkin merupakan alasan paling utama yang membuat saya datang ke kampus di pagi hari ini, adalah bahwa saya harus membantu dalam pembuatan lembar kuisioner dari DPM Fahutan yang rencananya akan disebar ke anak-anak Fahutan, dalam rangka mengulas dan meminta pendapat teman-teman akan salah satu program dari BEM Fahutan yang baru saja selesai dilaksanakan: Forester Cup, ajang olahraga terbesar Fakultas Kehutanan.

Sejujurnya, itulah salah satu tugas dari DPM: memantau dan menilai kinerja dari Badan Eksekutif Mahasiswa. ‘Ndak di Fakultas, tingkat KM, hingga pas di TPB, tugasnya DPM kurang lebih ya seperti itu. Makanya bagi beberapa orang, khususnya anak-anak BEM (termasuk saya sendiri, dulu, saat masih berkecimpung di BEM TPB), DPM itu terasa menyebalkan. Kerjaannya cuma ngawasin dan protes-protes, ndak pernah kerja beneran di lapangan! Nyebelin!

….yah, namanya juga belum benar-benar ngerti. Saat saya menjadi DPM lah baru saya mengerti, bahwa tugas DPM melakukan hal-hal seperti itu sebenarnya demi menjamin dan membantu BEM tetap bekerja dengan baik. Ibaratnya DPM itu tugasnya mengayomi BEM… membantu setiap program-programnya agar dapat berjalan dengan baik. Dari yang sederhana, seperti membantu dalam urusan birokrasi, pembuatan proposal, menghubungkan BEM dengan ‘pihak-pihak atas’, membantu pengaliran dana, hingga yang terakhir tadi: memberikan koreksi pada BEM secara langsung maupun tidak langsung, dengan menyebar kuisioner/jajak pendapat kepada anak-anak Fahutan secara luas.

Harapan saya… teman-teman Fahutan yang mengisi ini mengisinya dengan sungguh-sungguh. Ini khan bukan cuma buat DPM sama BEM semata, tapi juga untuk kita semua. Kalau BEM bagus program kedepannya bisa lebih baik, kita semua yang enak, khan? :D Sipp…

Foto kuisioner

Ah, dan buat teman-teman… tolong doakan saya ya, biar saya UTS-nya bisa terlaksana dengan baik dan bisa saya kerjakan dengan sungguh-sungguh, dan mendapatkan hasil yang terbaik… Amiiiiinnn :mrgreen:

Jadi, kemana saja saya?

Pertanyaan yang mungkin penting, mungkin nggak penting, dan secara garis besar mungkin memang gak penting. Sudah beberapa minggu, sebulan malah ya, kurang lebih, saya absen dari jagad per-blogging-an. Tidak menulis, tidak membalas komentar… bahkan Facebook saya pun nyaris dorman. Jadi, di sini sekarang saya mau share dikit nih.. tentang apa saja yang membuat saya menjauh dari dunia maya (alias internet) selama nyaris satu bulan terakhir.

.

1. Lokakarya KM IPB

Mungkin ada yang tahu dan mungkin ada yang belum tahu. Ringkasnya lokakarya ini mempertemukan seluruh perwakilan dari Lembaga Kemahasiswaan, Lembaga Struktural, Unit Kegiatan Mahasiswa, dan pihak dari direktorat sendiri. Isinya? Sosialisasi LK per tiap fakultas, bincang-bincang, presentasi peraturan-peraturan dan sosialisasi tata kerja LK yang baru dari DPM KM IPB, membicarakan tentang pembagian dana, motivasi dan bincang-bincang tentang kepemimpinan dari para expert-nya, dan lain-lain.

Acara ini diadakan oleh DPM KM. Saya sendiri bukanlah anggota DPM KM, saya adalah DPM Fahutan, namun dalam acara ini, tiap-tiap DPM per fakultas dipersilakan untuk mengirimkan perwakilannya untuk bergabung dalam kepanitiaan. Dan Alhamdulillah, saya salah satu yang ditunjuk mewakili DPM Fahutan, dan saya berada di kepanitiaan, divisi PDD (seperti biasa :P ) dari awal sampai akhir :)

Suasana Lokakarya

Continue reading

Hari Cokelat, Kopdar Jombloers, dan Berasa Tua

Hari Cokelat!

14 Februari 2012. Hari Valentine. Atau, seperti yang banyak anak muda sekarang katakan, ‘Hari Kasih Sayang’. Saya nggak akan mencoba mencaritahu darimana sebenarnya asal-muasal Hari Valentine ini, terlalu banyak cerita dan konspirasi yang menebar, dari kisah konspirasi sederhana (kesalahpahaman antar budaya) hingga yang ekstrim, seperti valentine adalah hari yang diadakan dari zaman Sumeria dan diajarkan oleh para Alien dalam rangka memuja Dewa mereka.

Yap, sumber-sumbernya ada lho. Coba aja cek di internet. Begitu banyak kisah-kisah seram yang berkaitan dengan Hari Valentine, sampai-sampai saya sakit kepala sendiri. Walhasil, mindset saya selama beberapa tahun terakhir ini tentang Hari Valentine terasa rada negatif, dan saya berpikir untuk melalui Valentine kali ini dengan biasa saja, sebagaimana hari-hari normal.

Setidaknya, sampai seorang teman saya berkata pada saya tentang bagaimana dia menyebut Hari Valentine sebagai Hari Cokelat. Alasannya? Apalagi kalau bukan karena biasanya pada hari tersebut adalah hari dimana anak-anak muda pada bagi-bagiin cokelat satu sama lain? Entah dalam rangka nembak, menyatakan cinta, kasih sayang, atau hal-hal lainnya, yang jelas mereka tuh bagi-bagiin cokelat. Dan cokelat itu bisa dimakan. Apalagi kalau tukeran. Profit deh.

Cokelaaat

Tentu saja terdengar aneh, bagi saya yang biasanya ber-mindset bahwa Valentine adalah ajang kasih sayang anak muda yang bisa berpotensi zina. Namun kalau dipikir-pikir lagi dari kata-katanya temen saya itu, rasanya malah lebih masuk akal juga ya. Kenapa nggak merayakan Valentine Day dengan cara kita sendiri, yang cukup produktif, menyenangkan, dan mengenyangkan, yaitu bagi-bagi dan tuker-tukeran cokelat?

Walhasil, saya sebarkan ide saya tersebut, kemudian saya tuker-tukeran cokelat sama beberapa orang , kemudian makan bareng (#gubrak). Dan saya secara spesial ngasih cokelat sebatang ke teman saya si penggagas Hari Cokelat, tapi ternyata dianya gak ngasih balik! Huhuhu… pokoknya saya tagih ntar ah! (#gakikhlas #payaaaah #plakk :mrgreen: )

Continue reading