PR Angka Sebelas!

Halo. Kemarin itu sebenarnya saya ada rencana mau menyelesaikan dan mem-publish postingan ini, namun batal karena saya menghadiri Seminar Bedah Buku Belajar Merawat Indonesia yang diadakan di IPB. Saya datang sebagai perwakilan dari DPM Fahutan, ditunjuk sama Sang Ketua DPM-nya sendiri, Bang Fahmi, dan karena saya pikir saya nggak ada acara jadilah saya datang.

Acaranya bagus, saya dapat banyak ilmu dan saya dapat buku gratis karena menjadi salah satu dari 100 peserta yang datang paling pertama ke tempat seminar. Meskipun sebenarnya saya datangnya juga nggak pagi-pagi banget, 30 menit sebelum acara mulai… ya, saya pikir saya beruntung :D Saya sampai rumah sudah sore, dan setelah berbagai hal lainnya yang saya kerjakan, saya menulis dan memublikasi apa-apa yang saya catat dari bagian utama acara tersebut, yaitu bagian Bedah Bukunya, di blog Student IPB saya. Silakan dicek dan beri komentar jika berkenan :)

Oke, mengenai postingan ini. Jadi, ini pertama kalinya saya bener-bener dapat tugas ngerjain PR dari temen narablog. Hehe, tugasnya sih.. kalau berdasar yang udah dikerjain mbak Niefha, yang ngasih PR ini ke saya, itu sederhana: tulis 11 fakta mengenai diri saya sendiri, kemudian jawab 11 pertanyaan dari si pemberi PR (lagi, si mbak Niefha, :P ) kemudian tulis lagi 11 pertanyaan untuk diberikan kepada 11 narablog.

Sebenarnya kalau katanya Mbak Niefha, deadline-nya itu satu minggu. Sekarang udah sepuluh hari… ya… anggap aja kelebihan tiga hari itu saya bayar dengan tiga puluh kali push-up deh. Nanti akan saya lakukan :D

Jadi, tanpa banyak basa-basi lagi… kita mulai saja yak! :mrgreen: Continue reading

Mengenai Adab Sehari-hari #1

Pernah ngalamin kejadian kaya’ di atas? Gimana reaksi dan perasaan teman-teman semua? Tentunya, saya yakin seyakin-yakinnya, nggak bakal sampai ngambil kapak dan ngebantai orang-orang tersebut, khan? Iya khan?

Hahum. Oke, kalau memang itu yang teman-teman lakukan, jangan pernah bilang siapa-siapa. Simpen aja sendiri, oke? Oke.

Jadi, hari ini saya pergi ke Botany Square. Sebuah mall yang cukup kesohor di Bogor, karena sebenarnya tempat tersebut merupakan satu dari sedikit sekali pusat perbelanjaan berformat mall yang bisa ditemui di kota Bogor. Di sana ada Hypermart, ada toko elektronik, dan – utamanya, dua tempat yang paling sering saya kunjungi kalau jalan-jalan: Gramedia dan Bioskop. Continue reading

Balada Pengambilan Rapor

Apa kabar semuanya? Sebelum memulai, sekali lagi saya meminta maaf kepada teman-teman narablog karena saya belum sempat berkunjung ke semua teman-teman yang berkunjung ke sini. Blogwalking akhir-akhir ini rada sulit dilakukan bagi saya karena jadwal yang padat dan waktu yang tak mendukung. Liburan telah tiba, saya dituntut untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga saya. Jalan-jalan, traveling, sampai ngalor-ngidul bareng :P

Omong-omong, hari ini ibu dan adik saya kembali ke Cilacap. Untuk liburan, tentu saja, di kampung halaman. Saya tidak ikut karena sedang belajar dan persiapan untuk menghadapi Ujian Akhir Semester. Ada banyak nama daun yang harus dihafal, dan juga langkah-langkah penggergajian yang harus dipahami. Belasan slide, seperti biasa :) Karena adik saya pulang hari ini, maka sebuah amanah dititipkan kepada saya untuk dilaksanakan: mengambil rapornya di sekolahan.

Semuanya berjalan sangat lancar. Datang, mengisi nama dan tandatangan di daftar hadir, masuk ruang kelas, kemudian duduk mengantri bersama bapak-bapak dan ibu-ibu lainnya. Semua yang ada di dalam kelas tersebut semuanya adalah orang dewasa, bersama keluarganya. Ada yang membawa anak, ada yang membawa bayi yang duduk di meja depan saya sembari menatap saya dengan polosnya, ada yang bahkan membawa kakek dan neneknya. Dan sebagainya. Continue reading

Childhood Wishes: Sebuah Kilas Balik

Kesan pertama Anda saat melihat gambar di atas? Mungkin ini: Oh tidak, jangan postingan mengenai Harry Potter lagi! Atau mungkin: Ah si Mas Ahmad ini bikin postingan mengenai Harpot melulu! Atau bahkan mungkin Ah ini si Mas kok kekanakan banget sih!

Nah, dalam postingan ini, saya akan memberi peringatan dini. Isi dari posting ini 100% adalah curhat dan opini, jadi bagi yang tidak bisa menerima pendapat orang harap mundur. Ya, arahkan kursor ke tanda silang kecil di pojokan Tab, yaaap, Close! Bagus. Ah, dan hal yang sama juga berlaku bagi Anda-Anda yang tidak menyukai Harry Potter, atau lebih parah lagi, tidak menyukai anak-anak. Sudah? Oke, bagus sekali, terimakasih. Sekarang, bagi Anda-Anda yang tersisa di sini, saya akan bercerita kepada Anda sedikit mengenai diri saya. Continue reading

Dunia Masa Depan. Apa Yang Anda Bayangkan?

Waktu itu tahun 2007. Saya pertama kalinya benar-benar keluar dari lingkungan saya yang nyaman, yang telah saya tinggali selama ini, dan menjamah lingkungan baru yang benar-benar tak pernah saya kenal sebelumnya: lingkungan pergaulan metropolitan.

Saya berkenalan dengan beberapa teman. Dengan beberapa keunggulan kecil yang saya miliki, saya berhasil diterima di tengah-tengah mereka. Kami menghabiskan banyak waktu bersama, mengobrol bersama, dan tertawa bersama. Namun, tentu saja yang membuat saya lebih bersemangat dan senang bersama mereka adalah fakta bahwa kami semua sesungguhnya saling bersaing, demi mencapai posisi puncak dalam sebuah event ilmiah yang diselenggarakan saat itu.

Saat itu, kami akhirnya berangkat ke Eropa. Membawa nama Indonesia, yadda yadda dan sebagainya, mewakili negara dalam event internasional ini, etc etc. Saya duduk di sebelah salah satu teman saya tersebut, yang tampak sedang sangat nyaman mendengarkan musik melalui earphone putih yang terpasang di telinganya. Mengangguk-angguk, bergumam rendah, dan sebagainya.

Namun yang membuat saya merasa penasaran bukanlah lagu apa yang sedang dia dengar. Melainkan media yang sedang dia gunakan untuk mendengar: sebuah benda tipis kecil berwarna putih keperakan yang bertuliskan ‘iPod’ di bagian belakangnya.

Continue reading

Candid Photography: Alami nan Kocak

Akhir-akhir ini saya memiliki hobi baru. Membawa kamera Canon Ixus milik saya ke kampus, memotret berbagai hal dan peristiwa. Dan, dari sebagian besar foto yang saya ambil tersebut adalah foto teman-teman saya dalam berbagai kegiatan yang sedang mereka lakukan – dari yang keren sampai yang aneh nan ganjil – dan, sebagian besar dari mereka tidak sadar bahwa mereka sedang difoto.

Istilah kerennya? Candid photography, sebuah metode pemotretan dengan lebih mengedepankan penyatuan kamera dengan kejadian yang sedang berlangsung di hadapan lensa. Sangat berlawanan dengan fotografi klasik yang mengedepankan sebuah latar, panggung, dan objek yang sangat tertata dan diatur. Candid sangat mementingkan juga yang namanya spontanitas. Kita lihat sebuah kejadian yang bagus nan menarik, kita foto. Kita lihat teman yang sedang gaje, kita foto. Dan sebagainya :mrgreen:

Lalu, hobi saya yang baru ini awalnya cukup membuat saya lumayan ‘diserang’ di kampus, dengan kata-kata seperti “Astaga, Kadri? Iseng banget siiih!” atau “Iiiih bilang-bilang dong!” dan yang paling bikin ngek: “Gak nyangka Kadri… ya ampyunn…” :D Contoh foto-foto candid yang akhir-akhir ini saya ambil bisa dilihat nih, di bawah ini :P :

Ada yang merem, ada yang manyun, ada yang ketawa - ramai deh! XD

Ini lagi, ada yang ketawa-ketawa sampai kepala ndongak gitu, eh ada aja yang monyong ngeliatin XD

Continue reading

Aksi di Jalan Raya dan Truk Sampah

Pagi ini saya berangkat ke kampus seperti biasa. Mengendarai sepeda motor saya, menelusuri jalan raya, berkelit di antara mobil-mobil, dan sebagainya. Setelah melewati lampu merah pertama, jalan raya menjadi lebih lenggang. Kendaraan di sini jumlahnya lebih jarang, dan saya pun bisa menambah kecepatan motor saya sedikit.

Beberapa menit kemudian, jalan raya sedikit menyempit. Di depan saya ada satu truk sampah besar, dengan bagian atas tidak ditutup. Saya mengenakan masker, untungnya, jadi saya tidak terganggu oleh aroma tidak sedap dalam bentuk apa pun – meskipun, jujur saja, masih terasa sedikit. Si truk sampah berjalan dengan lumayan cepat, jadi saya tidak langsung menyusulnya dengan berkelat-kelit. Saya berpikir untuk menunggu sampai tiba di jalan yang lebih lebar, kemudian saya akan bisa menyusulnya dengan mudah dan aman -

Mendadak, sangat mendadak dan tanpa peringatan sama sekali, satu buah kaleng minuman melayang keluar dari bak si truk sampah dan meluncur, bagai dalam gerak lamban, langsung menuju wajah saya. Saya menyaksikannya mendekat, makin lama makin besar, hingga saya bisa membaca merek minuman kaleng tersebut -

Saraf sensorik di indera penglihatan mengirimkan impuls, menuju ke neuron, kembali ke motorik. Dengan sigap saya berkelit, bergeser ke kiri sedikit sehingga tuh kaleng melesat melewati saya tanpa kena, dan terjatuh di jalanan di belakang saya. Saya kembali menegakkan diri, merasa sangat bangga, seperti Neo di The Matrix yang baru saja menghindari peluru-peluru.

Tapi, ternyata ini belum selesai.

Kali ini bukan kaleng, melainkan kotak karton bekas susu, yang terbang keluar dari dalam bak truk. Gerakannya liar, kesana kemari terbawa angin, membuat saya kaget dan nyaris tidak bereaksi tepat waktu. Saya bergeser ke kanan, namun ternyata karena liarnya gerakan si kotak susu yang terbuat dari karton, saya salah perhitungan. Kotak tersebut meluncur TEPAT menuju wajah saya, saya bisa melihat permukaannya yang berlumur lendir -

Saya menunduk sampai-sampai kepala saya – yang untunglah dilindungi helm – menghantam dashboard motor saya. Kotak susu menjijikkan tersebut lewat di atas kepala saya, dan akhirnya jatuh di jalanan belakang saya.

Saya menegakkan diri, dan kali ini melihat plastik keresek melayang keluar dari kotak bak truk. Kantong plastik tersebut meluncur, sama seperti kedua saudaranya yang sudah mendahuluinya, menuju kepala saya -

That’s it! Enough!

Menancap gas, saya menghindari kantong plastik tersebut dan menyalakan lampu sein untuk menyusul. Saya melesat mendahului truk tersebut, tidak peduli akan suara raungan mesin motor saya yang pasti bisa kedengaran sampai bermil-mil maupun fakta bahwa jarak saya dengan si truk dan tepi jalan sebelah kanan hanya sebesar beberapa senti.

Setelah berhasil mengambil jarak aman kira-kira 400 meter, barulah saya menghela napas. Saat itulah, saya pun mengucapkan satu kata yang mewakili seluruh perasaan saya akan kejadian barusan:

“Edan!”

. Continue reading