Menuju Ke Depan Dalam Bidang Lingkungan Hidup

Kalau mau jujur, saat saya kecil, kanak-kanak, hingga remaja, tidak sedikit pun saya memikirkan isu-isu lingkungan hidup. Pemanasan Global, Perubahan Iklim, kelestarian hutan dan pembalakan liar, semua itu hanya terasa seperti angin lalu di lingkungan tempat saya tumbuh dan hidup.

Namun seperti semua orang lainnya, selalu ada sesuatu yang memulai. Dan sesuatu itu terjadi saat saya ada di SMA, kelas dua, seusai liburan akhir semester yang biasa.

Saya baru saja membeli sebuah DVD film di Jakarta. Judulnya Wall-E, film animasi yang – berdasarkan pendapat kakak-kakak sepupuku yang menyarankanku untuk membelinya – merupakan film animasi yang sangat bagus: menyentuh, romantis, dan exceptionally beautiful. Saya sudah pernah membaca artikel mengenai peluncuran film Wall-E sebelumnya di beberapa majalah, dan saat itu saya tidak bisa mengerti bagaimana sebuah film yang (katanya) bisu, dimainkan oleh robot-robot, dan bertemakan post-apocalyptic world bisa menjadi romantis.

Toh saya membelinya, dan saya membawanya ke SMA TN. Saya tidak membawa laptop saya bersama saya ke barak saat itu, jadi, karena saya (mendadak, dan tak terjelaskan kenapa) menjadi penasaran, saya datangilah rumah teman saya yang, kebetulan, merupakan anak dari salah satu guru di SMA TN. Saya beritahu dia kalau saya punya film baru, dia bilang dia tertarik, dan kami pun menontonnya bersama di DVD rumahnya.

Dan boy, saya tak akan berpanjang lebar lagi, kalau mau membaca ulasan dari saya mengenai film ini, silakan baca di sini. Sudah lengkap dan sejelas-jelasnya, mengungkapkan seluruh perasaan hati saya mengenai Wall-E.

Film tersebut adalah film pertama yang, menurut saya, meninggalkan kesan sangat dalam bagi diri saya. Haunting and intriguing, saya membutuhkan waktu berhari-hari – dengan otak saya yang waktu itu masih kaku, masih keras, masih egois – untuk bisa mengerti makna dari film ini. Dan boy, it was all worth it.

Continue reading

Jadi, kemana saja saya?

Pertanyaan yang mungkin penting, mungkin nggak penting, dan secara garis besar mungkin memang gak penting. Sudah beberapa minggu, sebulan malah ya, kurang lebih, saya absen dari jagad per-blogging-an. Tidak menulis, tidak membalas komentar… bahkan Facebook saya pun nyaris dorman. Jadi, di sini sekarang saya mau share dikit nih.. tentang apa saja yang membuat saya menjauh dari dunia maya (alias internet) selama nyaris satu bulan terakhir.

.

1. Lokakarya KM IPB

Mungkin ada yang tahu dan mungkin ada yang belum tahu. Ringkasnya lokakarya ini mempertemukan seluruh perwakilan dari Lembaga Kemahasiswaan, Lembaga Struktural, Unit Kegiatan Mahasiswa, dan pihak dari direktorat sendiri. Isinya? Sosialisasi LK per tiap fakultas, bincang-bincang, presentasi peraturan-peraturan dan sosialisasi tata kerja LK yang baru dari DPM KM IPB, membicarakan tentang pembagian dana, motivasi dan bincang-bincang tentang kepemimpinan dari para expert-nya, dan lain-lain.

Acara ini diadakan oleh DPM KM. Saya sendiri bukanlah anggota DPM KM, saya adalah DPM Fahutan, namun dalam acara ini, tiap-tiap DPM per fakultas dipersilakan untuk mengirimkan perwakilannya untuk bergabung dalam kepanitiaan. Dan Alhamdulillah, saya salah satu yang ditunjuk mewakili DPM Fahutan, dan saya berada di kepanitiaan, divisi PDD (seperti biasa :P ) dari awal sampai akhir :)

Suasana Lokakarya

Continue reading

Hari Cokelat, Kopdar Jombloers, dan Berasa Tua

Hari Cokelat!

14 Februari 2012. Hari Valentine. Atau, seperti yang banyak anak muda sekarang katakan, ‘Hari Kasih Sayang’. Saya nggak akan mencoba mencaritahu darimana sebenarnya asal-muasal Hari Valentine ini, terlalu banyak cerita dan konspirasi yang menebar, dari kisah konspirasi sederhana (kesalahpahaman antar budaya) hingga yang ekstrim, seperti valentine adalah hari yang diadakan dari zaman Sumeria dan diajarkan oleh para Alien dalam rangka memuja Dewa mereka.

Yap, sumber-sumbernya ada lho. Coba aja cek di internet. Begitu banyak kisah-kisah seram yang berkaitan dengan Hari Valentine, sampai-sampai saya sakit kepala sendiri. Walhasil, mindset saya selama beberapa tahun terakhir ini tentang Hari Valentine terasa rada negatif, dan saya berpikir untuk melalui Valentine kali ini dengan biasa saja, sebagaimana hari-hari normal.

Setidaknya, sampai seorang teman saya berkata pada saya tentang bagaimana dia menyebut Hari Valentine sebagai Hari Cokelat. Alasannya? Apalagi kalau bukan karena biasanya pada hari tersebut adalah hari dimana anak-anak muda pada bagi-bagiin cokelat satu sama lain? Entah dalam rangka nembak, menyatakan cinta, kasih sayang, atau hal-hal lainnya, yang jelas mereka tuh bagi-bagiin cokelat. Dan cokelat itu bisa dimakan. Apalagi kalau tukeran. Profit deh.

Cokelaaat

Tentu saja terdengar aneh, bagi saya yang biasanya ber-mindset bahwa Valentine adalah ajang kasih sayang anak muda yang bisa berpotensi zina. Namun kalau dipikir-pikir lagi dari kata-katanya temen saya itu, rasanya malah lebih masuk akal juga ya. Kenapa nggak merayakan Valentine Day dengan cara kita sendiri, yang cukup produktif, menyenangkan, dan mengenyangkan, yaitu bagi-bagi dan tuker-tukeran cokelat?

Walhasil, saya sebarkan ide saya tersebut, kemudian saya tuker-tukeran cokelat sama beberapa orang , kemudian makan bareng (#gubrak). Dan saya secara spesial ngasih cokelat sebatang ke teman saya si penggagas Hari Cokelat, tapi ternyata dianya gak ngasih balik! Huhuhu… pokoknya saya tagih ntar ah! (#gakikhlas #payaaaah #plakk :mrgreen: )

Continue reading

Back to Campus: Semester Padat!

Hari ini liburan peralihan semester awal tahun 2012 telah usai. Teman-teman saya di kampus pada kembali ke hingar-bingar kehidupan kuliah hari ini. Sebagian besar dari mereka membawa cerita-cerita, makanan/kudapan khas, serta berbagai cinderamata dari kampung halaman mereka masing-masing. Sepanjang kuliah hari ini, toples berisi kudapan-kudapan khas dari berbagai daerah beredar, dan dalam waktu singkat pula mereka habis.

Gaya euy! Habis dari pulkam harus semangat!

Lalu, bagaimana dengan saya? Sayangnya, tidak sebagus itu. Saya tidak pulang ke kampung halaman saya pada liburan peralihan kemarin. Banyak alasannya, dari bisnis yang harus diurus sampai – yang paling utama – kegiatan-kegiatan organisasi yang harus mulai dijalankan.

Sebagaimana yang mungkin sebagian besar dari teman-teman narablog (terutama yang sering mengunjungi lapak saya ini) tahu, saya adalah anggota dari Dewan Perwakilan Mahasiswa Fahutan IPB untuk tahun ini. Komisi Infokom pula. Saya ngurus banyak hal, sebagaimana yang teman-teman bisa baca dari posting saya yang ini, namun satu yang paling membuat jadwal saya cukup padat pada seminggu terakhir adalah kegiatan Lokakarya KM 2012.

Continue reading

Tentang KRS dan Kopdar Perdana

Pertama-tama, izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada Om Trainer karena telah mengizinkan saya mengirimkan tulisan ini dan menjadi penulis tamu dalam event Karsini miliknya. Sebuah kehormatan besar bagi saya, semoga apa yang saya tulis bisa selalu bermanfaat untuk semuanya :D

Lalu, sudah nyaris empat hari saya tidak berkunjung ke blog ini. Nggak nulis satu tulisan pun, novel dan cerpen terbengkalai, bahkan olahraga pun makin gak beres jadwalnya. Alasannya kenapa? Ada dua:

Pertama, karena saya beberapa hari belakangan ini sedang kerja keras mempersiapkan situs DPM Fahutan IPB agar bisa bekerja dan tampil maksimal. Dari mendesain header, menyusun dan memerbaiki format artikel-artikel yang sudah ada di sana, memilih Theme yang sesuai, dan sebagainya. Periode kuliah Semester Genap sudah mau dimulai, namun situs Dewan Perwakilan Mahasiswa Fahutan belum siap? Kemana saja saya? Ya, silakan, tendang saya #dugh karena kebanyakan santai-santai di rumah :cry:

Anyway! Saya sudah menyelesaikan pembangunan infrastruktur (ceritanya bahasanya mulai berat) sistem informasi online DPM Fahutan periode kepengurusan 2012. Saya mengaktifkan kembali Profil Facebook-nya, akun Twitter-nya, mendirikan Page Google+, hingga memperbaiki situs resminya. Kerjanya sebenarnya nggak terlalu berat, cuma duduk di depan laptop, namun karena internet yang lola (biasalah modem kalau dituntut kerja malah susah mau kerjasamanya) dan saya sendiri yang benar-benar gak begitu siap, jadilah butuh waktu dua hari penuh plus pegal-pegal di pinggang sebelum semuanya benar-benar kembali aktif. Phew. Yah… minimal sekarang sistem informasi online kami sudah kembali bekerja dengan baik, dan kami telah menyampaikan informasi-informasi serta bantuan-bantuan terbaru – terutama yang berkaitan dengan KRS.

Continue reading

Mengapa Berbuat Baik?

Ini ada cerita dari zaman saya SMA dulu. Waktu itu adalah hari Senin, seperti biasa sebagaimana hari Senin lainnya di sekolah saya, kami melaksanakan Upacara. Anak-anak kelas 10 masuk terlebih dahulu ke lapangan, langsung baris rapi, disusul oleh anak-anak kelas 11, dan kelas 12. Kemudian adalah para guru dan staf.

Semua petugas sudah di tempatnya, pengibar bendera sudah berdiri dengan tegapnya, dan pemimpin upacara menatap dengan gagahnya. Semuanya siap, tinggal menunggu seseorang yang menjadi kunci jalannya upacara ini: Pembina Upacara.

Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit berlalu. Menit demi menit berlalu hingga saya tidak lagi menghitung jumlah detik yang terlewati. Namun si bapak yang mau jadi pembina upacara ini belum datang-datang juga. Jadilah saya, dan sepertinya sebagian besar peserta upacara, mulai gelisah. Bagaimana tidak? Cuaca panas, langit jernih bersih tak ada awan, matahari makin lama makin meninggi, menerpa kami dengan teriknya, dan tak ada angin. Kami sudah bangun dan bersiap-siap untuk upacara ini sejak pagi-pagi sekali, dengan semalaman mempersiapkan diri untuk menyambut hari Senin. Kami bukanlah manusia super, apalagi saya, dan saya mulai merasa kesal.

Tentu saja kami tidak menampilkannya di luar. Secara tampilan, kami masih tegap, tegak, gagah dan perkasa. Hanya keringat yang mulai menetes-netes dan membasahi wajah kami yang menjadi pertanda berapa banyak stamina kami yang terkuras. Detik demi menit berlalu, hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu datang: sang Pembina Upacara jalan dengan tenangnya memasuki lapangan, diiringi teman saya yang menjadi ajudannya. Pasukan disiapkan, kami langsung mengambil posisi siap, dan saya berusaha keras agar tidak menyisakan jejak-jejak kejengkelan di wajah saya.

Continue reading

Menikah: Kisah-Kisah Komitmen

Ini kisah yang sudah agak lama. Saat itu, saya kelas tiga SMA. Ujian Nasional telah saya dan teman-teman saya selesaikan, dan yang ada di depan kami saat itu hanyalah sebuah liburan panjang, meninggalkan asrama kami dan kembali ke rumah, untuk jangka waktu kuranglebih satu bulan, guna berdoa sekuat tenaga agar kami lulus bersama-sama dari SMA kami.

Saya sudah selesai beres-beres sejak beberapa hari sebelumnya, dan saya sedang menikmati waktu kosong saya, ketika seorang teman saya datang ke kamar saya. Dia bukan teman dekat saya, namun saya cukup kenal dengannya. Kami mengobrol sedikit mengenai rencana kami untuk liburan yang terakhir ini dan rencana kami setelah SMA. Saya memberitahunya bahwa saya berniat melanjutkan ke Akademi, dan dia memberitahu bahwa dia ingin lanjut kuliah di sebuah universitas negeri.

“Dan satu lagi Dri,” ujarnya. Dia menarik napas pelan, dan berkata, “Aku mau menikah.”

…..Nah, jadi begini teman-teman narablog semuanya sebangsa dan setanah air. Saat itu saya masih masuk golongan ABG. Masih sangat ganjil bagi saya bila mendengar ada seseorang, yang baru saja beralih usia dewasa, apalagi dia itu teman saya, mengungkapkan pada saya bahwa dia mau menikah. Hal pertama yang nancap di kepala saya, tentu saja: Ajigile ini eike dilamar kah? Aaaaa… Tapi, tiga detik kemudian, saya akhirnya selesai mencerna kalimat tersebut penuh-penuh, dan bisa mengetahui kemungkinan lain dari isi kalimat itu.

Maka, saya pun bertanya, “Budi (bukan nama sebenarnya), kamu mau nikah sama siapa memangnya?”

Continue reading