Kalau mau jujur, saat saya kecil, kanak-kanak, hingga remaja, tidak sedikit pun saya memikirkan isu-isu lingkungan hidup. Pemanasan Global, Perubahan Iklim, kelestarian hutan dan pembalakan liar, semua itu hanya terasa seperti angin lalu di lingkungan tempat saya tumbuh dan hidup.
Namun seperti semua orang lainnya, selalu ada sesuatu yang memulai. Dan sesuatu itu terjadi saat saya ada di SMA, kelas dua, seusai liburan akhir semester yang biasa.
Saya baru saja membeli sebuah DVD film di Jakarta. Judulnya Wall-E, film animasi yang – berdasarkan pendapat kakak-kakak sepupuku yang menyarankanku untuk membelinya – merupakan film animasi yang sangat bagus: menyentuh, romantis, dan exceptionally beautiful. Saya sudah pernah membaca artikel mengenai peluncuran film Wall-E sebelumnya di beberapa majalah, dan saat itu saya tidak bisa mengerti bagaimana sebuah film yang (katanya) bisu, dimainkan oleh robot-robot, dan bertemakan post-apocalyptic world bisa menjadi romantis.
Toh saya membelinya, dan saya membawanya ke SMA TN. Saya tidak membawa laptop saya bersama saya ke barak saat itu, jadi, karena saya (mendadak, dan tak terjelaskan kenapa) menjadi penasaran, saya datangilah rumah teman saya yang, kebetulan, merupakan anak dari salah satu guru di SMA TN. Saya beritahu dia kalau saya punya film baru, dia bilang dia tertarik, dan kami pun menontonnya bersama di DVD rumahnya.
Dan boy, saya tak akan berpanjang lebar lagi, kalau mau membaca ulasan dari saya mengenai film ini, silakan baca di sini. Sudah lengkap dan sejelas-jelasnya, mengungkapkan seluruh perasaan hati saya mengenai Wall-E.
Film tersebut adalah film pertama yang, menurut saya, meninggalkan kesan sangat dalam bagi diri saya. Haunting and intriguing, saya membutuhkan waktu berhari-hari – dengan otak saya yang waktu itu masih kaku, masih keras, masih egois – untuk bisa mengerti makna dari film ini. Dan boy, it was all worth it.



