[Fiksi] Untuk Ambrosia: Sebuah Khayalan

A/N: Sudah cukup lama – mungkin dua tahun atau lebih – sejak terakhir kali saya menulis sebuah Flash Fiction. Harap dimaklumi kalau ada banyak kekurangan, dan saya sangat memohon dan mengapresiasi setiap masukan yang teman-teman berikan. Untuk mbak Amela, terima kasih atas Giveaway-nya. Silakan, selamat membaca :D

.

CAIN

.

Pria itu duduk dengan tenangnya, di sebuah bangku halte bus tua. Dengan baju compang-camping, penampilan berantakan, aroma busuk yang menebar, serta rambut kusut berubannya, semua orang di jalanan melewatinya cepat-cepat. Gelandangan, pria tak berguna, para masyarakat menyebutnya demikian.

Kemudian hujan turun. Demikian derasnya, hingga orang-orang merapat ke bawah lindungan atap pertokoan, membuka payung mereka terburu-buru, dan berjingkat di atas trotoar yang tergenang air. Para pengendara roda dua menepi, beberapa untuk memakai jas mereka, beberapa bergabung bersama peneduh.

Seorang pemuda menghentikan motornya di halte bus tersebut, turun dan duduk di bangku panjangnya. Dia melepas helmnya, menyeka rambut dan wajahnya yang basah. Dia merasa kedinginan.

Pria tua tersebut mulai bersiul. Dalam deru angin dan hujan, suara siulannya terdengar begitu ganjil, terlalu merdu, indah, dan menyedihkan. Pemuda tersebut menoleh ke si pria tua, memandanginya dengan bingung.

Saat bait pertama siulannya berakhir, sang pemuda memutuskan untuk menyela. Dia berkata, “Maaf, apakah kita pernah bertemu?”

Derasnya hujan, deru angin, seolah teredam begitu saja. Seolah alam, langit, dan tetesan air tidak berniat untuk membiarkan kalimat jawaban dari pria tua tersebut tak terdengar, seolah mereka ikut termangu mendengarkan.

Suara tawa pelan keluar dari mulutnya, pria tua itu menjawab, “Tidak, tidak pernah.”

“Lagu itu… tapi lagu itu…” pemuda tersebut berkata, mendekat ke arah si pria tua, “Lagu yang kau siulkan, Pak Tua – aku yakin aku pernah mendengarnya sebelumnya!”

“Di satu tempat yang asing, seolah bagai mimpi, namun sangat nyata dan berkesan di hati, benar ‘kan?” kata pria tua itu, tersenyum di akhir kalimatnya. “Aku pernah mendengar seluruh lagu dan nyanyian yang ada di dunia, sejak bahasa pertama digunakan. Tentu saja kau pasti pernah mendengarnya, nak.”

Sang pemuda mengernyit. “Oke… Bagaimana caranya kau bisa melakukannya?”

“Melakukan apa?”

“Mendengarkan seluruh lagu… di dunia?”

“Itu hal yang mudah dilakukan, kalau kau membunuh  di muka bumi, lari meninggalkan kedua orangtuamu, yang menangisimu, menyesali diri mereka sebagai orangtua yang gagal, padahal dirimu yang bersalah karena terayu tipu daya setan. Hal yang sangat gampang, jika kau menambah derita mereka, setelah mereka dibuang dari Taman Kebahagiaan.”

Pria tua itu mendengus pelan, menggeleng-geleng kecil dengan sedih. “Ah… Ribuan tahun. Berlalu dengan kutukan di punggungmu. Kau takkan bisa mati, karena seluruh dosa pembunuhan di dunia menanti untuk ditimpakan padamu, hingga pembunuhan terakhir yang akan ada.”

Sang pemuda menatap pria tersebut, yang menoleh kepadanya, tersenyum jail. Dia melanjutkan, “Pada akhirnya, kau cuma akan berjalan. Jalan dan terus berjalan, mengitari dunia berkali-kali. Tak pernah tinggal di satu tempat lama-lama, karena tak ada tujuan ‘tuk dituju, tak ada hidup ‘tuk dihidupi. Tidak jika hubunganmu dengan Tuhan seburuk hubunganku dengannya.”

Pria tersebut bangkit. Dia meninggalkan perlindungan atap halte bus, melangkah melewati tirai hujan. Mendongak menatap langit kelabu, dia berkata, “Mungkin Tuhan memang sudah meninggalkanku… dan meninggalkan dunia ini. Mungkin Dia merasa kecewa pada kita. Atau mungkin Dia memang hanya ingin bermain-main… di tempat lain.”

Menoleh ke si pemuda, pria tersebut mengedip, dan berkata, “Kalau kau tahu maksudku.”

Sang pemuda memandangi pria itu melangkah, kian jauh menembus hujan, hingga lenyap di tengah jalan. Udara dingin kian mencekam, seiring kepergian pria tersebut.

.

Word Count: 500

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

Tak Usahlah Memusingkannya!

Ini adalah sebuah cerita lama, yang baru-baru ini saya dengar lagi dalam sebuah show-nya Mario Teguh, sang motivator kondang itu, di televisi. Dalam show tersebut, Mario Teguh mengangkat sebuah topik yang cukup unik: topik mengenai cinta.

Saya, sebagai anak muda yang sedang mencari cinta (#halah) tentu saja langsung mengurangi kecepatan makan malam saya dan mendongak untuk ikut mendengarkan apa yang disampaikan Mario Teguh. Semua yang beliau sampaikan bagus, dan sangat inspiratif, namun secara umum tidak terlalu mengejutkan bagi saya. Nyaris semua bahasan di dalamnya sudah biasa saya dengar dan baca dalam kehidupan sehari-hari, bahkan saya terapkan di dalamnya.

Ya, hingga akhirnya beliau sampai pada satu topik pertanyaan ini, yang disampaikan oleh salah seorang penonton:

“Jika kita sudah berkeluarga nanti, bagaimana kita mengatur cinta kita? Ada banyak hal yang harus dan selayaknya kita cintai: istri/suami kita, anak kita, ipar kita, mertua kita, orangtua kita sendiri, dan bahkan agama kita. Bagaimana kita bisa membagi hati kita?”

Beliau tertawa kecil, dan menjawab dengan lancar, “Tentu saja jawabannya adalah: Anda harus mencintai agama Anda 100%, sepenuh-penuhnya hati.”

Saya mengangguk. Hal yang biasa saya dengar juga, teman-teman saya juga dari dulu sering berkata begitu -

“Kemudian, Anda mencintai istri/suami Anda 100%. Juga sepenuh hati.”

Saya mendongak. Apa maksudnya?

“Ipar Anda 100%, anak Anda 100%, mertua Anda 100%, dan orangtua Anda 100%. Semuanya 100%, sepenuh-penuhnya hati kita memberikan.”

Saya mengerjap beberapa kali. Lho, kok bisa begitu? Mana bisa kaya’ begitu, khan? Masa hati kita mau dijumlah berapa ratus persen-

“Disitulah sebagian besar dari kita salah. Kita menganggap kita tidak bisa mencintai semuanya 100% sama. Padahal bisa. Berikan 100% pada semua yang memang kita sayangi. Mungkin kata Anda, ‘Lha, jumlah semuanya khan bakal lebih dari 600%, 10000%, dan semacamnya itu pak?’

“Itulah poinnya. Kita bisa melakukannya karena Cinta itu tidak ada logika. Cinta itu tidak bisa dihitung dengan matematika. Kalau berusaha mengharafiahkan cinta dengan logika, itu berarti membelenggu cinta hanya dalam batas daya pikir otak manusia. Padahal kenyataannya tidak! Cinta adalah sesuatu yang sangat haqiqi, sesuatu yang sangat tinggi melampaui segala logika dan daya pikir manusia!”

Continue reading

The Origins of Dreams: Dua Teori

Kegiatan Malam Forestry Exhibition 2011 telah dilaksanakan kemarin malam, dan dengan bangga saya katakan di sini bahwa acaranya berlangsung dengan cukup sukses. Persiapan dilakukan sejak pagi hari, dengan divisi Logtrans menyiapkan tempat duduk, panggung, peralatan dan semacamnya, dilanjutkan dengan dekorasi dari divisi PDD, publikasi di detik-detik terakhir, dan lain-lain. Semuanya berjalan dengan baik, dan meskipun terjadi mulur waktu cukup lama – nyaris mencapai satu jam – acara tetap berjalan sebagaimana mestinya dan dengan sangat bagus.

Dan, saat lagu terakhir selesai diputar, saat tirai ditutup dan semuanya keluar dari ruangan, saya merasa sangat puas. Semua pengorbanan yang telah saya lakukan, dari tidak tidur semalaman sampai tidak mengikuti beberapa rangkaian kegiatan ospek departemen, terasa sangat layak – really worth it. Saya berpartisipasi dalam kepanitiaan event yang bagus, dan saya bangga karenanya.

Selama seminggu kemarin saya mengurusi cukup banyak hal untuk event ini, terutama hal-hal yang berkaitan dengan kerja di belakang komputer: membuat website, membuat desain untuk Nametag panitia, pengisi acara, kemudian sertifikat, hingga video kaleidoskop yang diputar di tengah-tengah acara, dan lain sebagainya. Mengerjakan hal sebanyak itu, ditambah dengan kegiatan-kegiatan ospek departemen dan tugas-tugas kuliah, ternyata sangat melelahkan. Bermalam-malam saya kekurangan jam istirahat dan jam tidur saya untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut. Menyusun video sampai jam tiga pagi, ketiduran di atas meja atau di sofa, dan lain sebagainya. Namun, yang paling utama dan paling mengganggu saya – bahkan hingga saya sampai ke kampus – adalah mimpi.

...seperti di atas ini. Yeah.

Continue reading

Menjaga Fokus Dalam Menulis

Kemarin saya baru saja mengikuti kegiatan Hari ke-3 ospek departemen di kampus saya. Acaranya seru, mantap, dan – selayaknya banyak ospek lainnya di berbagai tempat di dunia – membuat capek lahir dan batin. Positifnya, saya mendapatkan banyak catatan dan ilmu, serta bisa berolahraga bersama teman-teman saya, ramai-ramai. Jarang-jarang saya punya teman bareng buat joging. Biasanya saya joging sendiri sepanjang pagi.

Anyway, hari ini adalah tanggal 20 November 2011. Tinggal sepuluh hari lagi menuju akhir dari bulan November, dan kita akan memasuki bulan Desember. Untuk sebagian besar warga negara di luar negeri tentu saja ini berarti awal dari musim dingin yang sebenarnya dan juga liburan musim natal. Namun bagi saya, akhir dari bulan November itu berarti deadline dari sebuah event yang saya ikuti saat ini: NaNoWriMo. Menulis novel dengan jumlah kata 50 ribu atau lebih dalam kurun waktu satu bulan.

Jadi, tentu saja akan ada pertanyaan: bagaimana progress saya sejauh ini?

Kalau boleh jujur, tadinya saya mengira NaNoWriMo tahun ini akan lebih mudah daripada yang saya ikuti tahun lalu. Saya sudah pernah melaksanakannya sekali, khan, jadi pastinya lebih gampang dong – Alah bisa karena biasa, khan? Harusnya begitu, khan?

....Apparently not

Continue reading

Nongkrong dan Ngetik di Kafe

Seperti yang teman-teman ketahui, saya mengikuti ajang NaNoWriMo lagi tahun ini. Yap, menulis novel – 50,000 kata dalam waktu satu bulan. Kerja yang berat, itu sangat jelas – ribuan penulis dari seluruh dunia menyerah dan gagal dalam memenuhi target ini setiap tahunnya. Kegiatan menulis novel, ditambah dengan kesibukan dunia nyata – pekerjaan, sekolah, dan sebagainya – membuat event ini sangat menekan. Satu-satunya kelompok yang mungkin tidak begitu tertekan adalah para penulis novel profesional – yang sudah terbiasa menulis.

Oleh karena itu, dalam rangka menghindari stress dan sempitnya waktu di bulan November nanti (apalagi saya masih ada Ospek Departemen yang baru akan dimulai bulan depan *shudder*) saya pun memulai kegiatan pre-writing saya, atau planning untuk novel saya, sejak sekarang. Persiapan tersebut meliputi outlining, menciptakan karakter, membangun setting, plot, dan sebagainya. Sehingga, nanti saat November tiba semuanya sudah siap dan saya tinggal langsung menulis isi novel saya.

Dan, di sinilah ceritanya: beberapa hari lalu saya mendapatkan tempat yang bagus sekali bagi saya untuk mengerjakan segala pembangunan novel saya. Saya sudah tahu adanya tempat ini sejak lama, sudah tahu bahwa penulis-penulis katanya menggemari tempat-tempat seperti ini, namun baru kali ini saya benar-benar menyambanginya dan mencoba menulis di dalamnya.

Ya, teman-teman, tempat tersebut adalah Kafe – Coffee Shop. Continue reading

NaNoWriMo is Back!

NaNoWriMo. National Novel Writing Month. Ajang menulis diadakan yang setiap tahun oleh lembaga Office of Letters and Light, salah satu event internasional terbesar yang diadakan secara online. Tahun ini, event ini kembali dengan segala kedigdayaannya dengan menarik hati seluruh penulis di segala penjuru dunia untuk bergabung dan berpartisipasi dalam kegiatan yang sangat mengasyikkan, mengerikan, sekaligus menantang: menulis sebuah novel, dengan panjang 50.000 kata atau lebih, selama satu bulan.

Acara ini diadakan untuk mendorong antusiasme dan kreativitas orang-orang di seluruh dunia, baik itu para penulis profesional, penulis amatir, hingga anak SD yang sedang coba-coba belajar mengarang. Lupakan sejenak akan kualitas nan tinggi, diksi nan membuai, dan majas-majas nan indah. Kejarlah jumlah kata, karena acara ini mendorong pengutamaan kuantitas, bukan kualitas. Yang terpenting adalah mencoba: menulis, menulis, dan terus menulis! Continue reading

Goresan Luka

Note: Sudah cukup lama sejak terakhir aku mem-posting cerpen karyaku di sini. Jadi, ini dia. Cerpen singkat karyaku, ide yang menyelimuti kepalaku sejak semalam dan menolak pergi sama sekali.

.

.


Perang telah berakhir. Diki, adik dari fotografer dan jurnalis Abdul Rohman, menerima apa yang tersisa dari kakaknya: sepucuk kamera dan selembar surat.

Abdul telah pergi ke medan perang sebagai reporter. Peluru tak bisa membedakan mana prajurit dan penduduk sipil, dan nyawa Abdul pun turut tercabut. Diki menyimpan satu-satunya peninggalan kakaknya tersebut di ruang bawah tanah. Menyentuhnya membawa kembali ingatan-ingatan bahagia mereka berdua, hal-hal yang tak ingin dia ingat kembali di saat-saat seperti ini.

Kamera tersebut berada di sana, hingga kaca dan permukaannya tertutup debu.

Empat tahun kemudian, Diki kembali ke ruang bawah tanah dan menemukan kembali kamera tersebut. Dia membukanya, mengganti roll di dalamnya, dan mencobanya.

.

Sandra adalah yang pertama. Prajurit wanita dari satuan khusus, teman kakaknya dari medan perang.

Lukanya ada di leher, memanjang dari tengkuk hingga ke punggungnya. Dia sangat cantik, dengan mata cokelat hangat dan rambut hitam lurus. Dia mengenakan lukanya dengan bangga, pengingat bahwa dia telah berhasil melalui semua pertempuran dengan sukses.

Dan, di hari pemotretan, luka itulah satu-satunya yang dia kenakan di tubuhnya.

Dia memunggungi kamera, menolehkan wajahnya dan melirik ke arah Diki dengan mengangkat tangannya guna menyibak rambut panjangnya agar lukanya terlihat. Senyumnya sangat menggoda dan menantang. Diki menelan ludah berkali-kali, hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan fotonya.

Sandra memberikan kedipan mata kepada Diki saat sang fotografer mengantarnya pulang. Lagi, Diki menelan ludah. Continue reading