<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Luna&#039;s Journal</title>
	<atom:link href="http://lunacrafts.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lunacrafts.wordpress.com</link>
	<description>Kampus &#124; Masyarakat &#124; Budaya &#124; Teknologi &#124; Nasi Goreng dan Kota Hujan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Feb 2013 04:25:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='lunacrafts.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/b1e970268639a0ae456b0aa0cb3a999a?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Luna&#039;s Journal</title>
		<link>http://lunacrafts.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://lunacrafts.wordpress.com/osd.xml" title="Luna&#039;s Journal" />
	<atom:link rel='hub' href='http://lunacrafts.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Instagram dan Foto-Foto</title>
		<link>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/16/tentang-instagram/</link>
		<comments>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/16/tentang-instagram/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2013 23:15:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Alkadri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Instagram]]></category>
		<category><![CDATA[mobile]]></category>
		<category><![CDATA[Photos]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lunacrafts.wordpress.com/?p=2916</guid>
		<description><![CDATA[Aku mengenal Instagram dari sebuah tulisan di salah satu situs tech yang sering kukunjungi sejak aku memiliki hape Android. Saat membaca nama aplikasi tersebut, keingintahuanku muncul dan mengambil alih. Aplikasi apa ini? Apa yang bisa dilakukannya? Katanya berkaitan dengan memberi efek-efek pada foto, apakah benar? Aku pun mencari informasi lebih lanjut dari berbagai situs dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lunacrafts.wordpress.com&#038;blog=23502132&#038;post=2916&#038;subd=lunacrafts&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 220px"><a href="http://instagram.com/p/K_0XcmsONe/"><img alt="Blocking" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/blocking.jpg?w=210&#038;h=210" width="210" height="210" /></a><p class="wp-caption-text">Balok kayu di laboratorium</p></div>
<p style="text-align:justify;">Aku mengenal Instagram dari sebuah <a href="http://www.theverge.com/2012/4/3/2922607/instagram-for-android-available-in-google-play-store" target="_blank">tulisan di salah satu situs tech</a> yang sering kukunjungi sejak aku memiliki hape Android. Saat membaca nama aplikasi tersebut, keingintahuanku muncul dan mengambil alih. Aplikasi apa ini? Apa yang bisa dilakukannya? Katanya berkaitan dengan memberi efek-efek pada foto, apakah benar?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pun mencari informasi lebih lanjut dari berbagai situs dan blog, dan akhirnya mengunduhnya dari Play Store Android. Dan <em>boy, </em>aku sangat senang bisa menemukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin karena aku masih baru, masih hijau akan dunia ke-Android-an, dan mungkin juga karena aku dalam hati sesungguhnya adalah orang 4L4y yang dulunya senang ngutak-atik tampilan friendster dan ngedit-edit foto dengan gaya-gaya aneh, yang jelas dalam sekejap aku ketagihan menggunakan Instagram. Aplikasi <i>photo sharing </i>yang satu ini sangat simpel, begitu simpelnya sampai-sampai kadang aku merasa bingung. Ada foto yang bagus, bisa diambil, <em>klik, </em>kasih efek, dan posting di Instagram. Mau <em>share </em>juga di Facebook dan Twitter? Tak masalah, Instagram menyertakan fitur <em>sharing </em>ke berbagai jejaring sosial, termasuk FB dan Twitter.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 220px"><a href="http://instagram.com/p/U8pSsnsODi/"><img alt="Ocean blue" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/ocean-blue.jpg?w=210&#038;h=210" width="210" height="210" /></a><p class="wp-caption-text">Pantai Teluk Penyu, Cilacap</p></div>
<p style="text-align:justify;">Efek-efek yang disediakan pun menarik. Aku menikmati menyaksikan foto-fotoku berubah warna dan tampilan untuk setiap filter yang ada. Misal, foto balok-balok kayu yang berantakan di laboratorium di kampus bisa diubah jadi kaya&#8217; di atas. Foto yang biasa-biasa saja bisa diubah jadi lebih unik. Rasanya memuaskan menggunakan aplikasi tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, ada beberapa isu yang diangkat juga. Misalnya, opini beberapa pihak yang mengatakan kalau Instagram adalah aplikasi yang &#8216;<em>pointless</em>&#8216;. Alasannya adalah hape-hape sekarang &#8216;kan kualitas kameranya sudah bagus-bagus, beberapa bahkan nyaris melebihi DSLR, tapi kenapa foto dengan kualitas murni yang sangat bagus itu sengaja diberikan efek &#8216;tua, aneh, rusak&#8217;, seperti yang ada di Instagram? Sia-sia saja rasanya pengembangan megapixel dan piranti lunak kamera, begitu kata mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari situ, aku mulai mencari-cari latar belakang/sejarah sesungguhnya mengenai Instagram. Beberapa <em>blog post </em>memberitahu bahwa Instagram sesungguhnya dibuat untuk iPhone, secara eksklusif. iPhone generasi awal (iPhone 1, 2, 3G, dan 3Gs) tidak memiliki kualitas kamera yang begitu bagus. Oleh karena itulah, Instagram, dengan filter-filternya, dapat menutupi kekurangan tersebut. Dengan menggunakan filter, kualitas foto yang rendah bisa tertutupi hingga menjadi sesuatu yang &#8216;baru, unik, dan kadang elegan&#8217;.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 220px"><a href="http://instagram.com/p/LK_4z6sOIG/"><img alt="Cibodas" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/cibodas.jpg?w=210&#038;h=210" width="210" height="210" /></a><p class="wp-caption-text">Cibodas, praktek lapang</p></div>
<p style="text-align:justify;">iPhone berkembang menjadi iPhone 4 dan 4S. Kemudian, Android juga termasuk dalam sistem operasi yang bisa menjalankan Instagram. Kamera <em>smartphone</em> semakin lama semakin bagus, dan pengguna Instagram berkembang dari pengguna biasa menjadi termasuk para fotografer profesional. Beberapa dari mereka bahkan begitu serius dalam menggunakan Instagram, hingga foto-foto mereka masuk dalam kualitas sangat tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi para pengguna kasual, orang-orang yang memiliki hobi foto-foto tapi tak memiliki uang cukup untuk membeli piranti DSLR lengkap dan ingin memiliki sesuatu yang &#8216;simpel, portabel, dan <em>mobile, </em>dan <em>social-friendly,</em>&#8216; Instagram menyediakan ruang utama untuk mereka. Dan untuk para profesional, atau para penggemar hobi foto yang lebih lanjut, Instagram memberikan ruang untuk suatu jenis fotografi yang baru, unik, dan beda dari yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, aku masuk kategori yang mana kah? Jawabannya, jelas yang kasual, alias pengguna biasa. Aku bukan seorang fotografer, dan aku takkan pernah berpura-pura menjadi fotografer. Foto-foto yang kuambil, sebagian besar, adalah hasil iseng-iseng. Aku hanyalah pengguna kasual yang sedang tertarik dengan melesatnya <em>social network </em>sebagai media untuk berbagi foto, tulisan, dan lain-lainnya. Aku adalah orang yang memiliki <em>tendency </em>untuk men-<em>share </em>hal-hal menarik yang kulihat dan kualami, dan Instagram memberikanku media baru untuk melakukannya. <em>As simple as that.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bulan Desember kemarin, dengan uang hasil menabung dan menjual Samsung Galaxy W milikku, aku membeli hape Sony Xperia P, sebuah <i>smartphone </i>Android dengan OS 4.0 Ice Cream Sandwich yang sangat bagus. Kameranya, berukuran 8 MP, juga menghasilkan foto-foto yang sangat bagus. Hobi foto-fotoku semakin menyenangkan, dan Instagram membuat kegiatan hobiku menjadi terasa lebih unik dan menarik. Sekarang, aku sudah menggunakan Instagram untuk berbagai kegiatan &#8211; dari foto-foto <em>traveling, </em>foto-foto di kampus, dan banyak lagi. Aku berniat mengeksplorasi lebih jauh lagi penggunaan aplikasi yang satu ini.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 220px"><a href="http://instagram.com/p/QH084fMON3/"><img alt="Plane" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/plane.jpg?w=210&#038;h=210" width="210" height="210" /></a><p class="wp-caption-text">Di Halim Perdana Kusuma</p></div>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, di atas semua euforia tersebut, tetap saja ada beberapa kekhawatiran yang kurasakan. Misalnya, akhir-akhir ini, dalam berbagai kesempatan &#8211; misal, jalan-jalan ke pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem di Cilacap, atau jalan-jalan di Halim Perdana Kusuma &#8211; aku selalu <em>memaksa </em>diriku membawa kamera sungguhan, Canon milikku yang sudah berusia 2 (dua) tahun. Aku mencoba memaksa diriku memotret dengan menggunakan kamera tersebut, menggunakan berbagai <em>setting </em>dan pengaturan yang ada di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, setelah beberapa foto, aku mulai merasa ada yang kurang. Dulu, aku senang melakukan ini: mengangkat kameraku, foto-foto, dan seterusnya. Tapi aku merasa ada yang kurang. Aku memasukkan kembali Canon milikku ke dalam tas, mengangkat hape Sony Xperia-ku, dan mengambil ulang foto-foto berbagai objek yang ada. Kemudian aku membuka Instagram, mengeditnya, dan mengunggahnya. Beberapa menit kemudian, sudah ada beberapa Like yang diberikan untuk fotoku tersebut, hapeku memberitahuku melalui notifikasinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah kenapa, rasanya jauh lebih memuaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin aku mulai ketagihan menggunakan Instagram, atau mungkin aku sudah terlalu terbiasa dengan foto-foto menggunakan hape, terjebak dalam <a href="http://www.theatlantic.com/technology/archive/2012/01/the-facebook-eye/251377/" target="_blank">Facebook Eye</a> dan kehidupan <a href="http://writingthroughthefog.com/2012/06/08/notes-on-new-ways-of-photographing-and-consuming/" target="_blank">berbagi foto digital</a> sehingga aku mulai melupakan nikmatnya foto-foto menggunakan sesuatu yang <em>lebih </em>manual, lebih analog. Entahlah. Aku merasa ini menarik, dan aku merasa penasaran apa efek hal ini untuk kemampuan fotografiku ke depannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, bagaimana menurut teman-teman? Ada yang punya Instagram? Bagaimana pendapat teman-teman saat menggunakannya? Apakah menyenangkan, dan apakah ada yang merasakan efek samping yang sama dengan yang kurasakan?</p>
<br />  <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lunacrafts.wordpress.com&#038;blog=23502132&#038;post=2916&#038;subd=lunacrafts&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/16/tentang-instagram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/blocking.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/blocking.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Blocking</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/e480177e67876237614c488761507aa7?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lunacrafts</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/blocking.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Blocking</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/ocean-blue.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ocean blue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/cibodas.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Cibodas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/plane.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Plane</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#EpicRant: Sinergi Buruk</title>
		<link>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/13/epicrant-sinergi-buruk/</link>
		<comments>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/13/epicrant-sinergi-buruk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2013 03:01:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Alkadri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campus Life]]></category>
		<category><![CDATA[Public]]></category>
		<category><![CDATA[Real Life]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lunacrafts.wordpress.com/?p=2910</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Menurut kalian, kenapa Indonesia masih di bawah Singapura?&#8221; Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh seorang dosen dalam kuliah hari kemarin. Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya agak sedikit lebih rumit. Jadi, kenapa kita masih di bawah Singapura, Malaysia, atau bahkan negara-negara lain di Asia Tenggara dalam hal kemajuan? Apakah karena sumber daya manusianya? Tidak juga, karena jumlah Ph.D di Indonesia jauh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lunacrafts.wordpress.com&#038;blog=23502132&#038;post=2910&#038;subd=lunacrafts&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Menurut kalian, kenapa Indonesia masih di bawah Singapura?&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh seorang dosen dalam kuliah hari kemarin. Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya agak sedikit lebih rumit. Jadi, <em>kenapa </em>kita masih di bawah Singapura, Malaysia, atau bahkan negara-negara lain di Asia Tenggara dalam hal kemajuan? Apakah karena sumber daya manusianya? Tidak juga, karena jumlah Ph.D di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan negara-negara tersebut. Coba saja lihat di kampus saya sendiri, berapa banyak Ph.D yang mengajar. Ada berapa banyak Doktor, S-2, dan S-1 yang mengajar. Jumlah staf universitas kampus saya saja mungkin bisa hampir menyamai jumlah seluruh staf pengajar di Singapura.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, kenapa kemajuan negara kita <em>masih saja </em>berada di bawah negara-negara tetangga kita?</p>
<p style="text-align:justify;">Sumberdaya alam? Yang benar saja, sumberdaya alam Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Jumlah penduduk usia produktif? Sangat tinggi. Jadi, <em>kenapa?</em></p>
<blockquote><p><em></em>&#8220;Karena, sumber daya manusia yang berkualitas itu <em>belum cukup. </em>SDM harus <em>didukung </em>oleh lingkungan yang baik.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">&#8216;Lingkungan&#8217; di sini bukan sekedar &#8216;lingkungan&#8217; dalam arti hal-hal yang hijau, asri, dan sejenisnya. Lingkungan di sini adalah kesatuan hayati dan manusia, masyarakat dan lingkungan secara menyeluruh. Negara kita memang memiliki sumber daya manusia yang <b>bagus, berkualitas, </b>tapi dengan lingkungan yang sekarang, yang belum mendukung, SDM yang bagus-bagus itu takkan bisa benar-benar sepenuhnya produktif.</p>
<p style="text-align:justify;">Mau contoh nyata? Di atas sudah saya sebutkan bahwa jumlah staf pengajar di IPB saja nyaris menyamai jumlah seluruh staf pengajar di Singapura. Ada kurang lebih 12.000 mahasiswa yang aktif (baru mahasiswa yang S-1 doang lho). Ada organisasi mahasiswa yang lengkap (dari BEM, DPM, UKM, Himpunan Profesi, semuanya ada). Namun, <em>setiap harinya, </em>pasti jalan raya di depan kampus - <em>satu-satunya </em>jalan raya yang menghubungkan kota Bogor dengan Dramaga, <em>satu-satunya jalan raya </em>yang menuju IPB, pasti ada saja macet.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemacetannya bisa disebabkan banyak hal. Angkot membeludak, jalanan rusak, sampai lampu lalu lintas yang mati. Jalan-jalan yang rusak tersebut, padahal, saya ingat sudah ditambal sekian kali &#8211; namun selalu saja rusak lagi. Aspal apa sih yang dipakai? Aspal yang udah dimakan tikus? Lampu lalu lintas sudah berdiri, segar, baru, tapi sebulan kemudian sudah rusak juga. Marka jalan sudah jelas nggak putus-putus, tapi motor dan mobil saling susul-menyusul, menciptakan ketidaktertiban. Padahal, pengguna jalan tersebut banyak, termasuk para mahasiswa sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, mana nih aksi mahasiswanya? Kenapa nggak ada yang demo mengenai masalah-masalah tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-2910"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Contoh lainnya berasal dari pengalaman pribadi saya. Setahun lalu, saya sedang naik motor menuju kampus. Saya melaju dengan cepat di jalan raya yasmin, menuju lampu merah sebuah perempatan. Saya menambah kecepatan karena lampunya sedang hijau, namun mendadak saya lihat lampunya berubah menjadi merah. Dengan jarak pengereman yang cukup, saya melambatkan laju motor saya dan berhenti, tepat saat lampunya berubah jadi merah &#8211; meski truk di depan saya masih melaju, menerobos. Saya pikir, &#8220;Ah, berhenti saja. Jangan tiru-tiru, ntar bahaya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saat saya berhenti, di <em>belakang </em>saya persis, sebuah mobil, beberapa motor, seluruhnya membunyikan klakson mereka. Saya menoleh, tentu saja tidak mengerti kenapa mereka mengklakson saya.  Namun, mendadak, mobil <em>tersebut </em>maju dan menubruk motor saya dari belakang, mendorong saya maju beberapa meter. Saya, kaget bukan kepalang, menginjak rem saya keras-keras dan (dengan gigi masih di posisi netral) menarik gas sekencang-kencangnya. Saya melotot ke si pengemudi mobil, yang tampak kaget. Dia berhenti mendorong saya, namun dia masih melotot ke saya. Sejenak, emosi menguasai saya. Saya ingin turun dari motor, menarik turun si sopirnya, dan menghajarnya di tempat. Akal sehat kembali, dan saya mengurungkan pikiran buruk tersebut jauh-jauh.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya merasa bingung, kesal, dan tidak percaya. Kenapa si sopir begitu emosi karena saya berhenti di lampu merah? Apakah karena dia jadi tidak bisa menerobos? Sebegitu gila kah dia? Saya mematuhi rambu lalu lintas, tapi malah diperlakukan seperti itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Mau contoh lain? Pernah nggak ada teman di kelas Anda, atau mungkin <em>Anda </em>sendiri, yang pada saat ujian tidak mau memberi contekan pada teman? Terus, Anda dicela karena hal itu, dituduh sebagai &#8220;tidak setia kawan&#8221;? Dikatai, &#8220;Ah, elo koq ga mau kasih contekan sih? Payah lo!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, apakah Anda merasa familiar dengan kejadian-kejadian seperti ini: Menolak merokok dianggap tidak gaul. Belajar alih-alih nongkrong dianggap tidak wajar. Mahasiswa-mahasiswa dengan prestasi tinggi hanya memiliki sedikit teman. Pejabat-pejabat yang jujur, yang tidak mau korupsi, malah diasingkan, dikucilkan, dari pergaulan politik, dianggap gila, tidak waras, dan banyak dimusuhi. Polisi yang nggak mau &#8216;uang damai&#8217; saat menilang di jalan raya dianggap menyusahkan rakyat. Habibie dan anak-anak Indonesia lainnya, yang baru saja pulang dari luar negeri dengan segenap prestasi dan gelar yang mereka bawa, sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di Indonesia. Orang-orang yang memberantas korupsi dituduh sebagai oknum konspirator.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang baik dianggap jahat, orang-orang jahat dianggap baik. Masyarakatnya sendiri seolah saling bersinergi untuk memburukkan lingkungan dan kehidupan mereka, menghalangi kemajuan negara mereka sendiri. Masih butuh contoh lebih banyak lagi untuk menunjukkan bahwa lingkungan negara ini tidak cukup baik untuk bisa mendukung SDM-nya?</p>
<p style="text-align:justify;">Butuh keseimbangan antara Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Masyarakat. SDA ada, SDM ada, namun lingkungan tidak mendukung, kemajuan pun akan terhambat. Masalahnya, bagaimana caranya mengubah lingkungan kita yang seperti ini? Bagaimana caranya mengubah lingkungan kita, masyarakat, <em>bahkan </em>teman-teman kita sendiri, untuk bisa membentuk lingkungan yang lebih baik?</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mahasiswa sekarang lebih doyan aksi politik daripada memperbaiki apa-apa yang dekat dengan mereka.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mungkin di situlah kesalahan saya, dan teman-teman saya, dan banyak mahasiswa lainnya selama ini. Kami terlalu sering berdemo mengenai politik, memprotes kebijakan-kebijakan pemerintah, dan berteriak-teriak di jalan raya. Kami lupa bahwa teman-teman kami di kampus, mungkin, ada yang sedang kesulitan dalam akademis maupun finansial. Kami lupa bahwa jalanan menuju kampus kami sudah banyak yang rusak. Kami lupa bahwa kosan kami masih kotor, penghuni-penghuninya jarang menyapa satu sama lain. Kami lupa bahwa mamang dan bibi di kampus kami, yang biasa bersih-bersih di kampus, mungkin juga sedang mengalami kesulitan, sakit, dsb.</p>
<div id="attachment_2911" class="wp-caption alignnone" style="width: 533px"><a href="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/demo-aksi.jpg"><img class="size-full wp-image-2911" alt="aksi yang membara!" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/demo-aksi.jpg?w=640"   /></a><p class="wp-caption-text">aksi yang membara!</p></div>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">sumber gambar: <a href="http://hiburan.kompasiana.com/humor/2010/10/05/demo-dan-aksi-279312.html" target="_blank">Kompasiana</a></p>
<div id="attachment_2912" class="wp-caption alignnone" style="width: 533px"><a href="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/antara-macet150810-2.jpg"><img class="size-full wp-image-2912" alt="adakah aksi yang memprotes keadaan ini?" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/antara-macet150810-2.jpg?w=640"   /></a><p class="wp-caption-text">adakah aksi yang memprotes keadaan ini?</p></div>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">sumber: <a href="http://lipsus.kontan.co.id/v2/bogor/" target="_blank">Lipsus | Bogor</a></p>
<p style="text-align:justify;">Urusi yang dekat, baru yang jauh. Jangan sampai kita menjadi sama dengan peribahasa berikut: gajah di seberang lautan tampak, tapi semut di pelupuk mata tak terlihat. Hal-hal yang jauh, yang sesungguhnya di luar bidang kita, malah kita urusi habis-habisan, tapi hal-hal yang dekat dengan kita tak kita pedulikan.</p>
<br />  <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lunacrafts.wordpress.com&#038;blog=23502132&#038;post=2910&#038;subd=lunacrafts&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/13/epicrant-sinergi-buruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/demo-aksi.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/demo-aksi.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">demo-aksi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/e480177e67876237614c488761507aa7?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lunacrafts</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/demo-aksi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">aksi yang membara!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/antara-macet150810-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">adakah aksi yang memprotes keadaan ini?</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Life is Camera Lens</title>
		<link>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/10/life-is-camera-lens/</link>
		<comments>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/10/life-is-camera-lens/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2013 02:04:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Alkadri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public]]></category>
		<category><![CDATA[Real Life]]></category>
		<category><![CDATA[Hakikat Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Life Lessons]]></category>
		<category><![CDATA[Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lunacrafts.wordpress.com/?p=2903</guid>
		<description><![CDATA[Kalau aku punya anak, aku akan menekankan padanya, &#8220;You don&#8217;t have to always be perfect.&#8221; Aku tumbuh besar dalam lingkungan yang konservatif. Orangtuaku muslim, begitu juga diriku, adikku, dan seluruh keluargaku. Ayahku adalah pegawai BUMN. Sebagian besar dari teman-temanku adalah anak-anak dari teman-temannya orangtuaku. Mereka tumbuh dan besar di lingkungan yang sama denganku, hanya sebagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lunacrafts.wordpress.com&#038;blog=23502132&#038;post=2903&#038;subd=lunacrafts&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau aku punya anak, aku akan menekankan padanya, &#8220;<em>You don&#8217;t have to always be perfect.&#8221;</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em></em>Aku tumbuh besar dalam lingkungan yang konservatif. Orangtuaku muslim, begitu juga diriku, adikku, dan seluruh keluargaku. Ayahku adalah pegawai BUMN. Sebagian besar dari teman-temanku adalah anak-anak dari teman-temannya orangtuaku. Mereka tumbuh dan besar di lingkungan yang sama denganku, hanya sebagian kecil yang bukan. Aku tumbuh dengan dorongan konstan dari keluarga dan lingkungan untuk selalu berusaha lebih baik dari teman-temanku yang lain. Aku selalu didorong untuk menjadi anak yang sempurna: pintar, baik, alim, penurut, <em>study-oriented. </em>Lebih jauh lagi, aku selalu didorong untuk mendapatkan ranking 5 (lima) besar di kelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain dalam bidang akademis, aku juga didorong untuk selalu menjadi terdepan dalam bidang non-akademis. Aku belajar menggambar, aku belajar gitar, aku diikutkan ke kursus Bahasa Inggris, dan aku juga diikutkan dalam pesantren sore. Begitu banyak kegiatanku saat aku kecil hingga waktu bermainku sangat sempit, aku ingat bagaimana aku bahkan tak sempat memainkan <em>gameboy</em> milikku. Imej &#8216;si Adri adalah anak perfect&#8217; berlanjut terus hingga aku lulus SD, di mana, karena begitu banyak tekanan, NEM-ku saat itu cukup buruk. Aku berhasil masuk ke SMP unggulan di kotaku dengan nilai terendah saat seleksi NEM, dan kukira, saat itu, segalanya akan berubah.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/450.png"><img class="alignnone size-full wp-image-2904" alt="About perfect people" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/450.png?w=640"   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-2903"></span>Ternyata, aku lagi-lagi salah.</p>
<p style="text-align:justify;">Masuk ke SMP unggulan berarti harus menjadi anak yang lebih <em>perfect. </em>Aku diikutkan banyak kegiatan, dari bidang akademik (kursus, les, <em>tryout, </em>dsb.) hingga non-akademik (olahraga, renang, basket, dsb.). Hanya saja, aku bisa merasakan adanya perbedaan, yang mana yang <em>sangat </em>terasa adalah bahwa aku, untuk pertama kalinya, memiliki <em>banyak </em>teman.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya. Untuk pertama kalinya, aku memiliki teman-teman yang berbeda latar belakangnya, sepenuhnya, denganku. Tidak seperti saat SD, di mana anak-anak di sekelilingku adalah orang-orang dengan latar belakang yang kurang lebih sama denganku, di SMP aku memiliki teman-teman yang berbeda. Aku berteman dengan seorang anak yang merupakan putra dari pengusaha kaya, konglomerat, dan aku memiliki teman yang setiap harinya, seusai sekolah, melaut bersama ayahnya untuk mencari ikan. Aku mendapatkan banyak teman baru, wawasan baru, mengenai bagaimana wujud dunia ini sebenarnya. Dan kau tahu? Aku, untuk pertama kalinya, melihat anak-anak yang tidak mendorong diri mereka untuk menjadi <em>perfect kids.</em></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ujian? Santai aja lah&#8230; yang penting jangan di bawah 60 nilainya,&#8221; kata seorang dari mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Siswa teladan, siswa berprestasi? Ngapain aku mau jadi kaya&#8217; gitu?&#8221; kata seorang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aku nggak mikirin nilai, Dri. Yang penting bisa lulus aja sudah syukur,&#8221; kata yang lainnya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu banyak kata-kata seperti itu yang kudengar. Jujur, aku terperangah saat itu. Kenapa teman-temanku ini tidak mau belajar rajin, seperti <em>aku</em>? Kenapa mereka tidak berminat menjadi siswa teladan? Kenapa mereka tidak mikirin nilai-nilai?</p>
<p style="text-align:justify;">SMP berlalu, SMA menghampiri. Masuk ke sekolah semi-militer dengan reputasi luar biasa, setiap muridnya dituntut untuk selalu menjadi <em>perfect &#8211; </em>sesuatu yang, secara natural, sudah biasa kualami sejak kecil. Mereka menuntut kami untuk pintar, untuk memiliki fisik yang prima, dan memiliki mental yang kuat. Mereka menyuruh kami menjadi dewasa. Pernah suatu ketika, ada anak yang melakukan kesalahan berkali-kali, dia dihardik teman-temannya sendiri dan dikatakan, &#8220;Berubah dong, berubah!&#8221; Dan akhirnya anak itu pun berubah, menjadi model <em>perfection </em>yang diharapkan oleh sekolahnya, oleh teman-temannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, aku menyaksikan bagaimana lingkungan mampu mengubah seseorang begitu saja. Termasuk diriku. Beberapa dari mereka berubah begitu drastis hingga sisa-sisa diri mereka yang &#8216;sebelumnya&#8217;, diri dan kepribadian mereka sebelum masuk ke SMA tersebut, sudah tak lagi bersisa. Aku kembali ke rumah setiap liburan, dan komentar-komentar yang sama juga berdatangan dari keluarga-keluargaku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Dri, beda banget.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Eh, adek, kok jadi beda banget sih? Gagah nih ya, hehe,&#8221; kata salah satu kakak sepupu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja, rasanya itu adalah pujian-pujian. Aku telah berubah menjadi lebih baik, aku telah berubah menjadi pribadi yang dewasa, mental kuat, mampu diandalkan, dst. Dan aku yakin teman-temanku juga mengalami hal yang sama. Namun, pertanyaannya tetap ada di dalam benakku: &#8220;Apakah ini benar-benar yang kuinginkan? Apakah ini benar-benar diriku?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Di lingkungan yang menuntut kesempurnaan dari masyarakatnya, anak-anaknya, dan orang-orangnya, para anak muda dituntut untuk berkuliah di bidang yang, kadang, tidak sesuai dengan minat mereka. Aku adalah salah satunya. Masuk ke Fakultas Kehutanan tanpa sedikit pun latar belakang mengenai kehutanan, masuk tanpa pengetahuan biologi yang cukup tinggi, apalagi rasa cinta tentang bidang pertanian Indonesia (pas jaman masih kecil, ga kebayang bahkan yang namanya kuliah di universitas pertanian).</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja, aku berusaha menjadi dewasa, menjalankan tanggungjawabku. &#8220;Aku sudah besar, kalau sudah masuk, harus kepalang basah. Harus belajar menyukai ini.&#8221; Lalu, sedikit demi sedikit aku mulai menemukan irama di kampus ini, dan mulai belajar menyukainya. Namun, tetap saja beberapa hal tak bisa diubah, salah satunya adalah kenyataan bahwa <em>passion</em>-ku bukan di sini. Hingga detik ini, aku sangat ingin untuk bangkit dari tempatku berada, dari zona nyaman di tengah-tengah lingkungan ini, dan berteriak kepada <em>mereka semua,</em> &#8220;Gue nggak suka ini! Gue maunya ini!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, sayang sekali, ini adalah lingkungan yang menuntut kesempurnaan. Menjadi tidak sempurna berarti menjadi terasing dari lingkungan. Aku iri pada teman-temanku yang berani berteriak dan mengakui bahwa mereka tidaklah sempurna, bahwa mereka <em>tidak mau </em>menjadi sempurna. Mereka adalah jiwa-jiwa yang berani menyerukan kenyataan di hidup dan tidak takut untuk menghadapi konsekuensinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ini karena aku dibesarkan di lingkungan seperti ini. Mungkin ini karena keluarga-keluargaku sendiri, orang-orang yang <em>paling dekat </em>denganku, jasmani maupun rohani, juga mengharapkan begitu banyak dariku. Atau&#8230; mungkin ini karena aku pengecut. Entahlah, aku sendiri tidak begitu mengerti. Seperti yang kukatakan di atas, aku sudah masuk, sudah kepalang basah. Tidak boleh setengah-setengah. Aku tidak bisa mengubah yang sudah terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, satu hal yang aku bisa janjikan: meski aku tidak bisa mengubah diriku &#8211; setidaknya tidak dalam arti keseluruhan &#8211; aku bisa mengubah orang-orang lain. Sebagaimana yang kusampaikan di paling atas, mungkin aku bisa mengubah anakku, menuntunnya untuk mencari jalannya sendiri. Agar dia bisa menjadi yang dia inginkan, bukan apa yang lingkungan inginkan darinya. Aku ingin dia merasakan orang-orang yang paling dekat dengannya senantiasa mendukungnya, apa pun yang terjadi. Bahwa aku takkan menolaknya hanya karena dia memilih jalan yang berbeda denganku. Karena, hei, bukankah selama apa yang kita kejar adalah Halal, kita diperbolehkan mengejarnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Kita semua tidak ada yang sempurna, namun kita semua memiliki potensi-potensi di dalam diri kita. Potensi dalam suatu bidang, keahlian, yang justru akan bisa muncul dan bersinar saat kita berhenti berusaha menjadi <em>perfect person. </em>Saat seorang anak memilih untuk mengambil kelas IPS daripada IPA di SMA-nya karena dia menyukai Sejarah, bukan Matematika&#8230; seorang remaja yang memilih menjadi takmir Masjid daripada mengikuti arus anak muda lainnya, orang-orang yang &#8216;ganjil&#8217;, orang-orang yang tidak berusaha menjadi <em>perfect  </em>berdasarkan pandangan lingkungannya&#8230; aku yakin orang-orang itulah yang akan mengubah dunia nantinya. Sejarah telah membuktikannya sebelumnya &#8211; Isaac Newton, Tesla, Einstein, Jobs, Zuckerberg &#8211; dan aku yakin sejarah akan mengulangnya lagi di masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/582.png"><img class="alignnone size-full wp-image-2905" alt="life is camera lens" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/582.png?w=640"   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan yang terakhir: sanggupkah kita menerima bahwa kita takkan pernah menjadi <em>perfect?</em></p>
<br />  <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lunacrafts.wordpress.com&#038;blog=23502132&#038;post=2903&#038;subd=lunacrafts&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/10/life-is-camera-lens/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/450.png?w=150" />
		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/450.png?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">About perfect people</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/e480177e67876237614c488761507aa7?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lunacrafts</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/450.png" medium="image">
			<media:title type="html">About perfect people</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/582.png" medium="image">
			<media:title type="html">life is camera lens</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nyaris Nyasar, Ada Bayi</title>
		<link>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/07/nyaris-nyasar-ada-bayi/</link>
		<comments>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/07/nyaris-nyasar-ada-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Feb 2013 14:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Alkadri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public]]></category>
		<category><![CDATA[Real Life]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Life Lessons]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lunacrafts.wordpress.com/?p=2889</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin siang, seorang teman memberitahuku bahwa temannya yang bernama Nurul baru saja melahirkan. Temannya ini sebenarnya juga adalah teman sekelasku saat kami masih di tingkat satu kuliah. Dia mengajakku untuk menjenguk temannya, untuk membawa dan ngasih kado ucapan selamat. Masalahnya, rumahnya ada di daerah Leuwisadeng, kurang lebih satu jam dari kos-kosanku dan melewati daerah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lunacrafts.wordpress.com&#038;blog=23502132&#038;post=2889&#038;subd=lunacrafts&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kemarin siang, seorang teman memberitahuku bahwa temannya yang bernama Nurul baru saja melahirkan. Teman<em>nya</em> ini sebenarnya juga adalah teman sekelasku saat kami masih di tingkat satu kuliah. Dia mengajakku untuk menjenguk temannya, untuk membawa dan ngasih kado ucapan selamat. Masalahnya, rumahnya ada di daerah Leuwisadeng, kurang lebih satu jam dari kos-kosanku dan melewati daerah yang banyak macetnya. Awalnya aku tidak <em>mood </em>untuk menempuh perjalanan ke sana, namun setelah dipikir-pikir lagi, &#8220;kenapa tidak?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, pagi tadi aku dan temanku, serta beberapa teman kami lainnya yang juga kenal dengan si Nurul, berangkat jam setengah delapan. Kami menempuh perjalanan cukup jauh, melalui jalan macet dan ramai di pagi hari, hingga akhirnya sampai di daerah yang bernama Leuwisadeng. Kami belok ke kiri dari jalan raya, di sebuah gang dengan plang besar di atasnya, dan melanjutkan perjalanan masuk ke dalam gang tersebut. Temanku yang kubonceng ini cukup pede, mengatakan kalau dia ingat dan tahu jalan menuju rumahnya si Nurul, sehingga aku pun menancap si Vixi &#8211; motorku tercinta &#8211; mendahului teman-teman kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, ternyata oh ternyata, dia ternyata <em>lupa. </em>Kami salah jalan dan hampir saja berakhir berkilo-kilometer dari jalan yang bener, bahkan nyaris saja masuk ke desa-desa lain yang notabene berada sangat jauh dari desa yang kami tuju. Walhasil, kami balik arah, dengan temanku itu menghubungi teman-teman kami (yang ternyata udah nyampe di rumah Nurul, cobaa&#8230; gimana gak kesel -,-) dan berhasil masuk ke gang yang benar, tanjakan yang benar, menuju jalan yang benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah beberapa belas menit, akhirnya kami sampai di rumah si Nurul. Dengan segera kami disambut, dan saya pun berkenalan (lagi) dengan Nurul (parah banget gue, mantan teman sekelas tapi udah lupa ya? -___-), dan kami pun disambut dengan banyak makanan. Sebagaimana mahasiswa pada umumnya (apalagi ada lima cowok dalam kelompok kami), makanan tersebut pun dihabiskan dengan cepat, bersih, efektif, dan efisien. Aku juga menikmati suasana desa dan pemandangannya, yang cukup sejuk dan menenangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, tentu saja bintang utama dalam kunjungan kami tak lain tak bukan adalah si bayi, alias putrinya si Nurul <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_26441.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2890" alt="Bayi" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_26441.jpg?w=640"   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-2889"></span>Aku sudah beberapa kali melihat bayi baru lahir. Sama seperti bayi-bayi tersebut, bayi yang satu ini juga tak begitu berbeda. Ciri-cirinya yaitu ukurannya kecil, warnanya merah, tukang tidur dan nangis, ga bisa diganggu, dan tentu saja, sangaaaat imut :3 Perlu usaha besar dari diriku untuk menahan keinginan mencubiiit pipinyaaa yang bulet, manis, dan lucuu :3 Apalagi ni bayi baru berumur 1 (satu) hari lhoo&#8230; kebayang ga sih usia &#8216;satu hari&#8217;? Masih rapuh banget, masih polos banget, harus banyak-banyak diantengin&#8230; :3</p>
<p style="text-align:justify;">Dari si bayi, perhatianku beralih ke Ibunya, si Nurul. Aku hanya ingat sedikit mengenai Nurul, dan aku tak pernah berinteraksi dengannya (sama sekali, lho, parah banget kan gueee) saat kami masih di kelas yang sama, namun dari apa yang kuingat akan dirinya, sangat berbeda dengan apa yang kulihat di hadapanku. Sembari menggendong bayinya, Nurul tampak sangat dewasa. Pertanyaan-pertanyaan melintas dalam benakku, salah satunya adalah apakah memang seperti ini semua anak muda yang telah memiliki <em>anak</em>? Apakah kondisi dan pengalaman akan senantiasa mendorong mereka untuk menjadi dewasa, melakukan lompatan kedewasaan dalam bertindak, berpikir, dan berbuat?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku juga menyadari bahwa dengan telah memiliki anak, berarti Nurul telah mengalami yang namanya proses melahirkan. Dan, dia, sama seperti perempuan-perempuan lain yang pernah kutanyakan, mengatakan hal yang sama: prosesnya sangat menyakitkan. Temanku bilang memang itu kodrat perempuan, untuk bisa melahirkan bayi ke dunia, melanjutkan proses generasi manusia menuju masa depan. Hal tersebut juga membuatku lebih sadar, bahwa siapa pun <em>calon-</em>ku nantinya (udah ada calon sih, tapi ntar kapan-kapan aja ya diceritainnya <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ), dia juga pasti akan mengalami hal yang sama.<em><br />
</em></p>
<div id="attachment_2892" class="wp-caption alignnone" style="width: 533px"><a href="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_2652.jpg"><img class="size-full wp-image-2892" alt="(dari kiri ke kanan) Temanku (yang membuat kami nyasar berdua -,-), Rika (teman sekelas di tingkat satu dulu), dan Nurul." src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_2652.jpg?w=640"   /></a><p class="wp-caption-text">(dari kiri ke kanan) Wida (&#8216;teman&#8217;-ku yang membuat kami nyasar berdua -,-), Rika (teman sekelas di tingkat satu dulu), dan Nurul.</p></div>
<p style="text-align:justify;">Jadi, ada beberapa janji yang, dalam hati, kutekankan pada diriku di siang tadi. Pertama, aku akan menemani istriku nantinya pada saat dia melahirkan. Kedua, aku akan menjadi ayah, bapak, dan suami yang baik serta bertanggungjawab kepada keluargaku. Aku ingin anakku, istriku, dan orang tuaku bahagia memilikiku. Aku ingin mereka senantiasa sehat, sejahtera, dan sentosa.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8230;mungkin mikirnya kegedean, ya? <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Tapi namanya juga cowok&#8230; udah umur 22 pula&#8230; harus mulai ada visi-misi ke depannya dong <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Kalau mikirnya cuma pendek-pendek aja, kapan mau maju?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Last but not least, </em>selamat ya, Nurul. Semoga anaknya bisa menjadi anak yang sehat, kuat, rajin belajar, pintar, baik hati, tidak sombong, gemar menabung, dan senantiasa membahagiakan orangtua, keluarga, bangsa, dan negaranya *Aamiiin* ^^</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lunacrafts.wordpress.com&#038;blog=23502132&#038;post=2889&#038;subd=lunacrafts&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/07/nyaris-nyasar-ada-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_26441.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_26441.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Bayi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/e480177e67876237614c488761507aa7?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lunacrafts</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_26441.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bayi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_2652.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">(dari kiri ke kanan) Temanku (yang membuat kami nyasar berdua -,-), Rika (teman sekelas di tingkat satu dulu), dan Nurul.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Airplane vs Train</title>
		<link>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/04/airplane-vs-train/</link>
		<comments>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/04/airplane-vs-train/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2013 05:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Alkadri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lunacrafts.wordpress.com/?p=2836</guid>
		<description><![CDATA[Kereta api adalah pilihan utama saya untuk pulang-pergi Bogor-Cilacap, Jakarta-Bogor, dan Yogyakarta-Cilacap sejak saya masih SMA. Saya menyukai banyak hal dari kereta api. Sejak kecil, saya sering merengek minta digendong Ayah saya dan dibonceng menuju stasiun di Cilacap. Di sana, kata beliau, saya menghabiskan waktu lama untuk berlari-lari dari ujung satu stasiun ke ujung satunya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lunacrafts.wordpress.com&#038;blog=23502132&#038;post=2836&#038;subd=lunacrafts&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_2630.jpg"><img class="size-full wp-image" id="i-2871" alt="Image" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_2630.jpg?w=710" /></a></p>
<p>Kereta api adalah pilihan utama saya untuk pulang-pergi Bogor-Cilacap, Jakarta-Bogor, dan Yogyakarta-Cilacap sejak saya masih SMA.</p>
<p>Saya menyukai banyak hal dari kereta api. Sejak kecil, saya sering merengek minta digendong Ayah saya dan dibonceng menuju stasiun di Cilacap. Di sana, kata beliau, saya menghabiskan waktu lama untuk berlari-lari dari ujung satu stasiun ke ujung satunya, berlari di atas rel kereta, mencoba menyeimbangkan diri sembari berjalan di bilah rel, atau naik-naik ke kereta api barang. Namanya juga anak kecil, ya &#8211; suka sama sesuatu yang gede, keren, berisik, dan <em>keren. </em>Ini sesuatu yang wajar, lho &#8211; coba tanya anak-anak laki-laki (terutama yang kelahiran tahun 80-an dan 90-an), apakah pas kecil dulu mereka suka sama robot-robot raksasa. Apakah mereka suka sama Ultraman, Gundam, dan semacamnya, Hampir bisa dijamin pasti mereka menjawab suka.</p>
<p>Waktu kecil, setiap kali Ayah dan Ibu saya membawa saya bepergian naik kereta, saya pasti duduk anteng di kursi sembari melihat pemandangan di luar. Dari awal sampai selesai, katanya &#8211; yap, dengan kata lain, saya tidak tidur. Saya seolah menikmati lajunya kereta, perjalanannya, gerbongnya, semuanya.</p>
<p>Kesukaan saya ini berlanjut hingga masa-masa kuliah. Kereta api, menurut saya, tetap menjadi salah satu moda transportasi paling simpel, paling enak, nyaman, cepat, dan (meskipun mungkin akan ada yang tidak setuju dengan saya) aman. Datang ke stasiun, beli tiket, naik kereta, duduk di kursi, nyandar sambil melihat pemandangan berlalu di luar, sawah-sawah dan rumah, gedung-gedung tinggi dan tebing-tebing terjal, semuanya ada. Dan kalau bosan, tinggal jalan ke sambungan gerbong (biasanya pintunya kebuka), nikmati angin luar yang begitu segar. Singkat kata, saya sangat suka kereta api.</p>
<p>Hingga, kurang lebih dua tahun lalu, jalur penerbangan Jakarta-Cilacap dibuka.<span id="more-2836"></span></p>
<p><a href="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/dsc_0395.jpg"><img class="size-full wp-image" id="i-2874" alt="Image" src="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/dsc_0395.jpg?w=710" /></a></p>
<p>Pesawat jurusan Jakarta-Cilacap bukan jenis pesawat besar bermesin jet, melainkan pesawat-pesawat kecil dengan mesin tunggal, berkapasitas 12 penumpang, dan secara keseluruhan mirip dengan pesawat perintis. Maskapainya bisa dibilang juga masih baru, peminatnya sebagian besar adalah para pebisnis yang secara rutin melakukan perjalanan Jakarta-Cilacap dan ingin melakukannya dengan cepat.</p>
<p>Saya mencoba menggunakan moda pesawat menuju Cilacap, untuk pertama kalinya, pada tahun 2012 kemarin. Dan benar, menurut saya, menggunakan pesawat menuju Cilacap memang <em>jauh </em>lebih cepat (hanya satu jam, bandingkan dengan menggunakan kereta api yang memakan waktu delapan jam), lebih praktis, dan pemandangannya lebih indah (menyaksikan awan-awan berarak di kanan-kiri kita dan daratan, pegunungan, jauh di bawah kita dapat membangkitkan perasaan-perasaan filosofis). Namun, tetap saja ada beberapa kekurangan <em>fatal </em>dari menggunakan moda transportasi pesawat menuju Cilacap.</p>
<p>Pertama, biayanya mahal. <em>There. </em>Jauh lebih mahal dibandingkan kereta api pada normalnya, mungkin bisa dua-tiga kali lipat. Sebagai mahasiswa yang sedang menabung untuk masa depan saya *uhuk*, saya merasa harga yang ditawarkan oleh maskapai tersebut sangat amat tinggi dan kurang sesuai untuk dompet saya. Memang sih, orangtua saya selalu siap sedia untuk membayarkan biayanya, namun hei, sudah umur segini masih minta dibayarin melulu? Gak malu?</p>
<p>Yang kedua, dan menurut saya yang paling <strong><em>fatal,</em> </strong>adalah faktor jantung. He?</p>
<p>Yap, faktor <em>jantung. </em>Jujur, pesawat yang ke Cilacap itu &#8216;kan tipe-tipenya mirip lah ya sama pesawat perintis. Itu bukan didesain untuk penerbangan yang lurus-lurus aja, lancar-lancar aja, dengan lepas landas dan pendaratan yang nyaman juga. Yang namanya hentakan-hentakan di saat mengudara, di udara, dan mendarat itu hal yang wajar. Namanya juga pesawat perintis. Dan saya bukannya mengeluh, itu kadang-kadang seru, namun <em>kadang, </em>keseruan itu menjadi mengerikan.</p>
<p>Misal: kemarin saat saya naik pesawat dari Cilacap ke Bogor, saya tidur dari berangkat sampai mau sampai. Saya terbangun karena hentakan yang cukup keras di udara. Saya menoleh, melihat ke jendela, dan melihat pesawat sudah berada di atas Jakarta. Bandara pun sudah terlihat&#8230; meskipun, saya pikir, agak aneh: <em>&#8220;kok kaya&#8217;nya kita hampir ngelewatin bandaranya ya&#8230; itu bandaranya di sana, kok kitanya masih maju?&#8221;</em></p>
<p>Nah, saat itulah, saya melihat sesuatu yang luar biasa: si pilot memencet beberapa tombol dan tuas, dan baling-baling pesawat makin lama makin lambat seolah mau berhenti. Yap, sampai-sampai saya bisa melihat bilah-bilahnya berputar, lho. Setelah itu, pesawat miring <em>nyaris </em>90 derajat, dan saya menyadari pilot sedang membawa pesawat melakukan manuver yang sangat menarik: berbelok tajam di udara sembari menukik, sesuatu yang hanya pernah saya saksikan di atraksi-atraksi udara dan film-film macam <em>Stealth </em>atau <em>Top Gun.</em></p>
<p><em></em>Terang saja, saya panik.</p>
<p>Saat itu, hidup saya seolah melesat cepat di depan mata saya: saat-saat saya pertama kali masuk TK, diantar sama Ibu; saat-saat dijahilin di SD, saat-saat jatuh cinta pertama kalinya pas SD, saat-saat menang lomba gambar; masa-masa SMP, berenang dan main basket sama temen-temen, jalan-jalan, dan ngusilin adek di rumah; masa-masa SMA yang penuh kejayaan, fisik yang prima, narsis, ABG dan bego-begoan, nggak punya malu, hingga membawa nama Indonesia di konferensi saintis muda internasional di Ukraina; dan akhirnya masa-masa kuliah, bertemu dengan pacar saya yang sekarang untuk pertama kalinya, wajah orangtua saya, wajah adek saya, wajah pacar saya, dan teman-teman saya semuanya&#8230;</p>
<p>&#8230;</p>
<p>&#8230;</p>
<p>perlu saya tambahkan, saya sedang mengenakan <em>earphone </em>saat pesawat menukik miring, dan lagu yang sedang dimainkan adalah <em>Alligator Sky-</em>nya Owl City. Bisa dibilang, lagu yang indah sebagai penutup cerita saya, itu yang saya pikir.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>..</p>
<p>.</p>
<p>Untungnya, manuver menukik miring tersebut membawa pesawat lurus ke bibir landasan, dan dalam sekejap, kami mendarat. Pendaratan disertai dengan hentakan-hentakan keras. Beberapa belas detik kemudian, kami sudah melaju dengan normal, parkir di tempat parkir pesawat.</p>
<p>Saya turun dengan telinga perih seolah habis ditusuk-tusuk, kepala pusing, dan jantung yang bertalu-talu.</p>
<p>.</p>
<p>Seperti itulah gambaran salah satu perjalanan saya dari Jakarta-Cilacap. <em>Nevertheless, </em>saya jadi bete buat naik pesawat lagi ke Cilacap. Saya pikir mending naik kereta ke Cilacap. Memang lama banget, tapi setidaknya ada pemandangan yang menemani, plus naik kereta selalu memiliki aroma-aroma romantis tersendiri. Daripada naik pesawat&#8230; satu menit berasa dua puluh tahun hidup T.T</p>
<p>Jadi&#8230; gimana menurut temen-temen? Enakan naik kereta atau pesawat (perintis) buat pulkam?</p>
<br />  <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lunacrafts.wordpress.com&#038;blog=23502132&#038;post=2836&#038;subd=lunacrafts&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lunacrafts.wordpress.com/2013/02/04/airplane-vs-train/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_2630.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_2630.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2630</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/e480177e67876237614c488761507aa7?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lunacrafts</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/img_2630.jpg?w=710" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lunacrafts.files.wordpress.com/2013/02/dsc_0395.jpg?w=710" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
